Diskon PPnBM Diperpanjang, tapi Inden Mobil Berbulan-bulan, Percuma Dong?

Tim detikcom - detikOto
Selasa, 15 Jun 2021 06:53 WIB
Jakarta -

Pemerintah memperpanjang pemberian diskon 100 persen pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) untuk mobil di bawah 1.500 cc. Namun di sisi lain, banyak tenaga penjual mengeluhkan karena pabrikan tak bisa menyuplai permintaan hingga berujung inden mobil berbulan-bulan. Apakah diskon PPnBM ini sia-sia?

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) berdasarkan relaksasi PPnBM nol persen yang berlaku pada triwulan pertama (Maret - Mei) terjadi lonjakan penjualan signifikan.

"Pemerintah bisa menilai dan mengevaluasi apa yang terjadi dalam tiga bulan terakhir ini, yaitu Maret, April, dan Mei. Kalau kami melihatnya, tepat sasaran, dan semua pihak happy dengan adanya stimulus ini," ungkap Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto.

Bila dirinci berdasarkan data penjualan ritel Gaikindo, secara akumulatif, Januari-April 2021 naik 5,9 persen yoy menjadi 257.953 unit. Secara bulanan volume penjualan ritel telah mendekati level normal atau sekitar 80.000 per bulan.

Khusus mobil-mobil di bawah 1.500 cc berpenggerak 4x2 memang trennya mengalami secara retail kenaikan dari Maret 2021. Pada Januari mobil-mobil seperti Avanza cs ini terjual 33.169 unit, Februari merosot 15.194 unit, penjualan lalu meroket seiring berlakunya PPnBM nol persen di bulan Maret, yakni 41.036 unit, April 33.063 unit, dan Mei turun lagi jadi 28.940 unit.

"Sesungguhnya tidak ada yang menduga bahwa lonjakan sales kemarin begitu signifikan. Ternyata masyarakat yang masih punya uang cenderung menyimpan uangnya untuk safing," kata Pengamat Otomotif, Yannes Pasaribu saat dihubungi detikcom, Senin (14/6/2021).

Namun beberapa tenaga penjual mengatakan dealer tak bisa memastikan barang sejak PPnBM nol persen berlaku. Inden pun sampai berbulan-bulan. bukannya tinggal meningkatkan kapasitas produksi?

Akademisi dari Institut Teknologi Bandung ini mengatakan kebijakan relaksasi tak hanya bikin efek kejut. Tapi juga hadir di waktu yang kurang tepat sehingga pabrikan belum bisa memenuhi permintaan pabrikan.

"Permasalahan lain yang kini terjadi secara global adalah terjadinya kelangkaan chip dunia. Seperti kita ketahui, mobil modern semakin masif dalam menggunakan chip dalam sistem kelistrikan dan interface mobil. Hal ini sudah jadi masalah serius sejak dua bulan lalu. Akibatnya, semakin banyak industri otomotif yang tidak dapat menyelesaikan produksinya karena ketiadaan komponen chip baik untuk sistem kelistrikan maupun perangkat interface digital kendaraan," kata Yannes.

"Bisa jadi, akibat dari lockdown skala besar yang lalu berdampak pada ditutupnya beberapa Industri komponen otomotif, dan sebagian besar produk yang dijual triwulan lalu adalah stok yang sudah mereka miliki, sekarang saat mau meningkatkan skala produksinya mulai terhambat dengan ketidaksiapan supply chain parts," sambung dia.

Tidak sia-sia, Yannes menyebut upaya pemerintah untuk memulihkan ekonomi nasional melalui perpanjangan insentif PPnBM dinilai untuk mengukur keberhasilan stimulus fase pertama pada Maret-Mei 2021.

"Tampaknya pada fase diskon pajak triwulan kedua ini pemerintah ingin memastikan apakah kesuksesan diskon PPnBM triwulan kesatu bukanlah bubble effect emosi pasar yang surprise akibat penurunan cukup besar dari harga jual mobil," ungkap dia.

Lebih lanjut Yannes menilai bahwa dukungan pemerintah untuk menjaga semangat pertumbuhan industri otomotif di Indonesia. Ini berdampak pada peningkatan konsumsi masyarakat yang memacu pertumbuhan rantai ekonomi lainnya yang berkorelasi dengan bisnis otomotif di pasar lokal.

"Meyakinkan para principal akan tren kondusif Indonesia terhadap otomotif, sehingga berpotensi menambah investasi barunya di Indonesia, ini akan berdampak positif terhadap ekonomi negara."

"Jika diskon pajak tahap 1 lebih kepada test gelombang, maka diskon tahap 2 lebih kepada rekonfirmasi apakah jika diskon pajak diperpanjang periodanya mampu membuat sales semakin meningkat (bukan sebaliknya)," tutup dia.

(riar/din)