Selasa, 21 Jan 2020 18:25 WIB

Kunci KIA saat Ingin Sukses di Indonesia

Ridwan Arifin - detikOto
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - KIA kini berada di bawah kendali perusahaan Indomobil Group yang juga menaungi beberapa pabrikan otomotif besar lainnya. Saat ini mobil KIA masih diimpor utuh dari Korea dan India.

Pengamat otomotif, Bebin Djuana mengatakan untuk berkiprah di pasar otomotif. Rumah produksi yang diciptakan dalam negeri menjadi bagian yang tidak bisa ditawar, teruntuk KIA saudara yang juga berbagi platform dengan Hyundai di prinsipal.

"Hyundai akan mendirikan pabrik. Itu kuncinya, selama itu belum terjadi susah (bertahan di pasar otomotif Tanah Air)," ujar Bebin di Jakarta.


Menurutnya, berkaca pada Wuling dan DFSK, kendati pabrikan China memiliki image yang kurang baik pada generasi sebelumnya. Perlahan citra itu mulai berbalik. Wuling misalnya saat ini mulai masuk ke-10 besar mobil terlaris di Indonesia.

"Waktu kamu katakan lho mobil China mendadak sudah sekian ribu unit per bulan output-nya, plus ekspor pula, kenapa? Pabriknya ada di sini, itu tidak bisa ditawar," ungkap Bebin.



Tak hanya China, merek otomotif Amerika pun demikian. Sejak Chevrolet memiliki pabrik, penjualannya pun terus tumbuh, dipadu dengan memiliki produk andalan yang memiliki kondisi pasar yang cukup gemuk.

"Dulu Chevrolet emang gede (penjualan sebelum punya pabrik)? Enggak kan? gara-gara punya pabrik di Pondok Ungu, kalau Anda lihat grafiknya growth di situ, kalau tidak Anda lakukan di republik ini, Anda jangan berharap bisa punya produk bagus dengan harga yang bersaing," ungkap Bebin.


Bebin menambahkan bila merek China sudah berhasil menembus penjualan di sekitar 1.500 unit per bulan, ke depan akan semakin mudah untuk menggaet pasar otomotif Tanah Air.

"Untuk naik ke atas cepat, kenapa? kan semakin banyak orang merasakan, dan itu yang orang katakan sebagai worth of mouth," ujar dia.

Pria yang pernah berkiprah sebagai salah satu Agen Pemegang Merek ini mengatakan mobil KIA saat ini misalnya KIA Seltos yang baru diluncurkan sudah dipilih sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia. Kendati demikian, urusan impor tentunya juga bergantung dengan nilai exchange rate beserta perpajakan.

"Yang menjadi mahal kalau Anda tidak produksi di sini, karena pajak barang mewah, impor duty, kumpulin saja itu ada segala macam perpajakannya, pemerintah kan berharap agar kembangkan industri itu di sini bukan hanya membawa produknya ke sini," papar Bebin.

Sementara itu Presiden Direktur Indomobil Sukses Internasional (Tbk), Jusak Kertowidjojo mengatakan tidak menutup kemungkinan untuk melakukan perakitan dalam negeri (Completely Knock Down).

Sebab seperti yang diketahui di mana perusahaan ini memiliki beberapa merek satu grup dengan Suzuki, Nissan, VW, Hino, dan Audi.

"Kami kan punya banyak pabrik jadi ga ada masalah (KIA menggunakan fasilitas pabrik untuk perakitan-Red) ," ujar Jusak di Jakarta, Senin (20/1/2020).

Secara umum produk CBU memang punya harga yang relatif lebih mahal ketimbang CKD, karena harus menanggung biaya impor dan pajak yang lebih tinggi. Jusak mengatakan untuk bisa melakukan perakitan di dalam negeri, setidaknya ada permintaan pasar yang bisa dijadikan standar.

"Sekali lagi kami mesti dapat volume dulu," jelas Jusak.

"Ya kita tau kalau satu CKD paling tidak perlu 30 ribuan. Ya harus ada volume dulu baru bisa pikirin CKD. Kalau tidak, tidak mungkin," ungkapnya (riar/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com