Kamis, 14 Nov 2019 12:48 WIB

Karena BBN Kendaraan Rendah, Jakarta Masih Macet?

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Ilustrasi Pajak Kendaraan Foto: Istimewa Ilustrasi Pajak Kendaraan Foto: Istimewa
Jakarta - Pemprov DKI Jakarta akan menaikkan bea balik nama kendaraan bermotor (BBN-KB). Banyak pertimbangannya sebelum Pemprov DKI Jakarta menaikkan BBN-KB. Salah satunya untuk mengurangi kemacetan.

Tertulis dalam penjelasan umum atas Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 6 Tahun 2019, salah satu pertimbangan menaikkan BBN-KB penyerahan pertama dari 10% menjadi 12,5% adalah dalam upaya mengendalikan laju pertumbuhan kendaraan bermotor dan mengatasi kemacetan lalu lintas yang semakin tinggi di DKI Jakarta.



"Bahwa dalam implementasinya pengenaan tarif bea balik nama kendaraan bermotor (10% dalam Perda No. 9/2009-RED), belum dapat mengendalikan laju pertumbuhan kepemilikan kendaraan bermotor dan belum mampu mengatasi kemacetan lalu lintas di Provinsi DKI Jakarta sehingga perlu dilakukan penyesuaian tarif bea balik nama kendaraan bermotor," tulis pertimbangan peraturan tersebut.

Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor, Amelia Tjandra, punya pendapat lain. Menurut dia, kemacetan bukan hanya karena penjualan mobil.

"Kalau dilihat di Jepang, pasar (penjualan) mobilnya itu kira-kira setahun 5 jutaan unit. Tapi Produk Domestik Bruto (PDB) dia jauh lebih tinggi. Tapi jumlah penduduk dia (Jepang) setengahnya (lebih sedikit) daripada Indonesia. Jepang jumlah penduduknya setengah dari kita, terus infrastruktur transportasinya juga bagus, pasarnya (penjualan mobil tetap) tumbuh," kata Amel di sela-sela perjalanan Terios 7 Wonders di Kolaka, Sulawesi Tenggara.



Melihat data yang dirilis Japan Automobile Manufacturers Associations (JAMA), penjualan mobil domestik di Jepang pada Januari-Desember 2018 mencapai 5,2 juta unit. Padahal, jumlah penduduk Jepang lebih sedikit, hanya 126 juta penduduk.

Sementara penjualan mobil domestik di Indonesia pada periode yang sama hanya di angka 1,1 juta unit dengan jumlah penduduk yang lebih banyak, hingga 264 juta penduduk.

"Makanya pasar Indonesia 1 juta itu karena tidak punya daya beli. Jadi (kemacetan) itu bukan karena (penjualan) mobil. Kalau mau ngomongin macet banyak faktornya. Contohnya manajemen lalu lintas. Jumlah mobil betul pengaruh, tapi banyak hal lain yang mempengaruhi kemacetan. Dan, industri otomotif itu menyumbang pajak yang luar biasa lho," ujar Amel.

Simak Video "Asyik, Ada Pemutihan Sanksi Pajak PKB dan BBN-KB di Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com