Viral di media sosial mobil LCGC Toyota Calya diamuk massa karena melawan arah. Peristiwa itu terjadi sore kemarin di Jalan Gunung Sahari, Jakarta.
Tampak mobil Calya berwarna hitam itu melawan arah, bahkan di jalanan yang padat. Mobil itu menabrak sejumlah motor dan berupaya menghindari kerumunan warga yang menyerang.
Sejumlah warga mengejar mobil tersebut dengan memecahkan kaca mobil. Namun, mobil tersebut tetap melaju maju dan mundur untuk melarikan diri hingga menabrak mobil polisi. Beberapa waktu kemudian mobil terkepung dan dihentikan warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ps Kasat Lantas Polres Metro Jakarta Pusat Kompol Arry Utomo mengatakan kecelakaan berawal ketika mobil melaju dari arah utara menuju selatan.
"Sesampainya di dekat Halte Lapangan Banteng, pada saat hendak diberhentikan oleh petugas, kendaraan tersebut tetap melaju dan terus berjalan ke arah selatan," ujarnya.
Kemudian, setiba di Jalan Gunung Sahari IV, kendaraan berbelok ke arah berlawanan. Pengendara Calya itu kemudian melajukan mobilnya ke Jalan Bungur Besar Raya.
"Sesampainya di Jalan Gunung Sahari V, kendaraan tersebut berbelok ke kiri melawan arah di Jalan Gunung Sahari V ke arah timur hingga di di Simpang MBAL dan tetap melaju di Jalan DR Sutomoke arah timur," tuturnya.
Di sekitar Hotel Bintang Baru, kendaraan berputar ke arah barat. Kemudian, kembali ke Simpang MBAL dan berbelok ke kiri ke Jalan Gunung Sahari arah utara.
"Hingga sampai di Simpang Pintu Besi, kendaraan tersebut berputar arah dengan melawan arah di Jalan Gunung Sahari arah selatan hingga berhenti di dekat Halte Busway Golden Truly oleh amukan massa pengguna jalan dan pengendara," ungkapnya.
Menurut Praktisi keselamatan berkendara yang juga anggota Kebijakan dan Advokasi Berkendara Direktorat Keselamatan Berkendara Ikatan Motor Indonesia (IMI) Erreza Hardian, aksi pengendara Calya yang melawan arah hingga diamuk massa ini kemungkinan dipicu faktor 'masa bodoh' dari pengendara mobil LCGC tersebut. Hal ini membuat banyak orang mengalami kerugian, termasuk mobil dan motor yang ditabrak Calya itu.
"Kalau dari kejadian itu lawan arah yang dimaksud sepertinya karena berusaha lolos dari sesuatu, melihat depannya macet karena APILL (lampu merah) dan melihat ada ruang untuk manuver dan berbalik arah ya itu yang menjadi keputusan pengemudi, ada ruang dan waktu, untuk menghindar dari sesuatu. Bisa jadi (menghindari) kejaran polisi," kata Reza kepada detikOto, Kamis (26/2/2026).
Menurut Reza, perilaku lawan arah sekarang makin banyak karena faktor 'masa bodoh' dari pengendara. Sayangnya, hal itu berdampak negatif dan bisa membahayakan pengguna jalan.
"Perilaku lawan arah sekarang makin banyak karena memang faktor sosiologi dan mobilitas sosial kita sedang pada fase bagaimana urusan saya, selesai. Ada resistensi pada pelaku terhadap apa pun ataupun siapa pun, gimana nanti dan bodo amat. Pengulangan bisa terjadi karena memang tidak ada kesulitan apa pun. Bahkan kemudahan yang diterima oleh pelaku untuk lebih cepat melakukan mobilitas," beber Reza.
Pelajaran penting dari kejadian ini, menurut Reza, pastikan diri Anda selalu siap di jalan. Akan banyak risiko, termasuk pengendara yang melawan arah.
"Kalau ada antisipatif dan fit to drive maka akan memberikan ruang dan menjauh dari risiko, bukannya menciptakan konflik," ujar Reza.
Dia bilang, jangan asal ingin cepat di jalan raya. Lakukan semua prosesnya untuk selamat di jalan. Termasuk jika diminta petugas untuk berhenti.
"Berikan ruang dan waktu pada posisi kendaraan dan Anda untuk berpikir dan bertindak dengan menjaga semua pengguna jalan, itu antisipatif," ucap Reza.
(rgr/din)












































Komentar Terbanyak
Agrinas Juga Impor Motor Roda Tiga untuk Kopdes Merah Putih
Pabrik di RI Bisa Produksi 400 Ribu Pick Up, Nggak Perlu Impor untuk Kopdes
Biar Dapet Rp 10 Juta/Bulan, Ojol Harus Ambil Berapa Orderan?