Minggu, 15 Sep 2019 17:09 WIB

Kualitas Udara Buruk, Jangan Sering Naik Kendaraan Pribadi!

Luthfi Anshori - detikOto
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - DKI Jakarta konsisten menempati urutan 5 besar, sebagai kota terpolusi di dunia versi situs AirVisual. Data hari Minggu (15/9/2019) pukul 12.44 WIB mencatat kualitas udara Jakarta terburuk kelima di dunia dengan Air Quality Index (AQI) 134.

Siapa paling pantas disalahkan atas pekatnya polutan di langit kota Jakarta? Tentunya kita semua pengguna kendaraan bermotor. Untuk diketahui, 70 persen polusi udara di Jakarta disumbang kendaraan bermotor, 60 persen diantaranya bersumber dari lubang knalpot kendaraan pribadi.



Dikatakan founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, warga Jakarta dan sekitarnya memiliki tanggung jawab moral untuk meminimalisasi polusi udara di kota ini.

"Karena bicara berkendara, bukan hanya menyoal aspek keselamatan lalu lintas saja, tapi juga termasuk soal kontribusi perilaku berkendara kita terhadap efek polusi udara di Jakarta," kata Jusri kepada detikcom, Minggu (15/9/2019).



Menurut Jusri, ada beberapa perilaku pengendara yang harus diubah untuk memberi efek terhadap perbaikan kualitas udara.

"Pertama yang harus kita perhatikan dari kualitas bahan bakar dulu. Pengendara sebaiknya memilih bahan bakar tanpa timbal atau yang beroktan tinggi, karena itu lebih sedikit polusinya," terang Jusri.

Selanjutnya, membiasakan mematikan mesin kendaraan saat berhenti dalam waktu cukup lama.



"Misal saat menunggu orang di stasiun atau pusat-pusat keramaian lainnya, sebaiknya mesin kendaraan dimatikan. Jangan selama menunggu, mesin mobil dinyalakan terus. Ini kan menyumbang polusi," katanya lagi.

Selain itu, saat memanaskan mesin kendaraan juga diimbau jangan terlalu lama. Terlebih, mesin-mesin kendaraan saat ini sudah memiliki teknologi canggih, sehingga proses memanaskan mesin cukup 2-3 menit saja. "Jangan seperti gaya orang lama, manasin mesin mobil sampai setengah jam," ujarnya.



Jusri juga mengimbau kepada pengendara motor agar jangan terlalu sering beraktivitas. Sebab seperti diketahui, asap dari sepeda motor menyumbang sekitar 44 persen polusi udara di DKI Jakarta.

"Khususnya pengendara motor, kalau nggak penting-penting amat, nggak usah mengendarai motor. Kalau ada pilihan transportasi publik yang nyaman di jalur yang ingin dilewati, gunakan aja. Ini juga berlaku untuk pengguna mobil. Jadi mereka bisa hindari bawa mobil pribadi dan sharing dengan orang lain, bisa teman, tetangga, atau keluarga, saat mau berpergian. Jadi satu mobil bisa terisi penuh oleh penumpang. Intinya kita melakukan gerakan mengurangi jumlah kendaraan di jalan," pungkasnya.

Simak Video "Jakarta Ibu Kota Polusi?"
[Gambas:Video 20detik]
(lua/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com