Selasa, 21 Mei 2019 14:11 WIB

Mazda: Transportasi Publik Oke Orang Bakal Cari Mobil Bagus

Rizki Pratama - detikOto
Mazda CX-9 Foto: Dikhy Sasra Mazda CX-9 Foto: Dikhy Sasra
Jakarta - Di saat angkutan umum semakin baik setiap harinya, para penjual mobil cukup was-was karena konsumen kini lebih memilih menggunakan sarana transportasi umum ketimbang mobil sendiri. Namun efek tersebut justru menjadi lubang yang bisa diisi oleh mobil menengah ke atas atau segmen premium.

Salah satu merek mobil Jepang yang dijual di Indonesia mengatakan saat ini membeli mobil tidak lagi menggunakan alasan kebutuhan karena sudah bisa dipenuhi oleh transportasi publik. Oleh karena itu segmen premium yang menawarkan kecanggihan dan kenyamanan memiliki keunggulan lebih jika dibanding dengan transportasi publik.



"Public transport Indonesia makin lama makin bagus. Kalau dulu orang beli mobil karena terpaksa tidak ada bus bagus, nggak ada LRT, nggak ada MRT. Jadi kalau beli mobil pasti yang enak punya dong buat dipakai keluarga atau dipakai weekend," ujar Presiden Director of PT Eurokars Motor Indonesia, Roy Arman Arfandy selaku agen pemegang merek Mazda di tanah air.

Oleh karena itu Mazda semakin serius menegaskan posisinya di segmen premium Indonesia. "Saya rasa Mazda arahnya akan ke segmen itu (premium). Sekarang Indonesia serius memperbaiki publik transportnya jadi kita mainnya di segmen yang kira-kira akan memberikan kenyamanan buat orang-orang yang ingin naik mobil," lanjut Roy.



Meskipun demikian ia pun tidak memungkiri bahwa pasar terbesar di Indonesia masih dikuasai mobil 7 seater berharga Rp 200 juta-an. Ia mengatakan memang segmen Indonesia unik dibanding pasar lainnya yang lebih dikuasai sedan.

"Kalau dilihat market memang Indonesia beda dengan industri mobil di dunia. Di dunia segmennya yang gede itu kan sedan kalau Indonesia kan di bawah 1%. Nggak bisa kita bandingkan Indonesia dengan dunia. Cenderung sekarang keluarga muda tetap belinya 7 seater kan," papar Roy.

Untuk itu Mazda di Indonesia mulai berencana membangun pabrik dalam negeri demi mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar. "Makanya balik ke perakitan (lokal) tadi. Studinya benar-benar harus teliti karena market Indonesia sangat spesifik nggak sama dengan dunia," pungkas Roy. (rip/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com