Selasa, 23 Apr 2019 14:59 WIB

Hasil Akhir Studi Mobil Plug-in Hybrid Toyota Tembus 88,8 Km/L

Luthfi Anshori - detikOto
Ilustrasi Foto: Ruly Kurniawan Ilustrasi Foto: Ruly Kurniawan
Denpasar - Studi komperehensif kendaraan listrik hasil kerja sama Toyota Indonesia, Kementerian Perindustrian dan 6 perguruan tinggi negeri, sudah memasuki tahap kedua.

Universitas Udayana Bali, jadi salah satu perguruan tinggi yang ikut melakukan kajian ini, selain Universitas Sebelas Maret, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.



Seperti dijelaskan Dosen Teknik Mesin dan Tim Leader EV Comprehensive study Universitas Udayana Ainul Ghurri, pengujian kendaraan hybrid dan plug-in hybrid Toyota di Pulau Bali dilaksanakan sejak 01 November 2018 hingga 24 Januari 2019.

"Ada 12 pengemudi dan 3 jenis mobil. Tiap pengemudi mengendarai mobil ICE, HEV, dan PHEV selama 2 minggu," kata Ainul, di Universitas Udayana, Denpasar, Bali, Selasa
(23/4/2019).

Adapun kendaraan yang digunakan adalah Toyota Prius Hybrid, Toyota Prius Plug-in Hybrid, dan Toyota Corolla Altis bermesin bensin (Internal Combustion Engine)

Masing-masing mobil diasup bahan bakar bensin adalah Pertamax Turbo (RON 98), dengan jarak tempuh per harinya antara 30 - 150 km/hari, dengan rute mengemudi berasal dari rumah pengemudi - kampus - rumah pengemudi.

Lalu bagaimana dengan hasil dari driving experience kendaraan listrik tersebut?



Berdasarkan presentasi dari tim studi komperehensif kendaraan listrik Universitas Udayana, didapatkan efisiensi bahan bakar sebesar 52 persen untuk jenis mobil hybrid dan 88 persen untuk mobil plug-in hybrid, dengan rasio berkendara mencapai 74,6 persen.

Lebih detail lagi, selama 88 hari percobaan mobil bensin mencatat konsumsi bahan bakar 10,9 dan 12,1 km/liter. Sementara keekonomian bahan bakar mobil hybrid mencapai 22,8 dan 23,3 km/liter. Dan untuk mobil plug-in hybrid mencatat angka 43,1 km dan 88,8 km/liter.

"Saya ucapkan apresiasi kepada tim peneliti dari universitas dan Toyota Indonesia atas selesainya studi komprehensif kendaraan listrik di Indonesia, kami berharap kolaborasi tersebut dapat dilanjutkan ke tahap selanjutnya," kata Direktur Jenderal Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin Harjanto.

"Untuk tahap lanjutan, kita bisa lakukan studi terkait komponen utama kendaraan listrik misalnya studi pengembangan teknologi baterai yang sesuai kondisi lingkungan Indonesia. Studi tersebut akan sangat berharga bagi pemerintah dalam penyusunan pendalaman struktur industri kendaraan listrik di Indonesia," pungkasnya. (lua/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com