Kamis, 18 Apr 2019 17:51 WIB

Seandainya Avanza Tak Punya Pilihan Mesin 1.300 cc

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Toyota Avanza. Foto: Dok. Toyota-Astra Motor Toyota Avanza. Foto: Dok. Toyota-Astra Motor
Jakarta - Persaingan low MPV sangat ketat. Saat ini, beberapa low MPV ditawarkan dengan beragam mesin, ada 1.300 cc ada juga yang pakai mesin 1.500 cc. Tapi, mesin 1.300 cc hanya ada di Avanza dan Xenia. Sisanya, low MPV dari pabrikan lain menggendong mesin 1.500 cc.

Executive General Manager Toyota Astra Motor, Fransiscus Soerjopranoto, mengakui bahwa penjualan Avanza didominasi oleh Avanza bermesin 1.300 cc. Berdasarkan data penjualan retail (dari diler ke konsumen) yang diperoleh detikcom, Avanza semua tipe (termasuk 1.300 cc dan 1.500 cc) terjual sebanyak 6.476 unit selama Maret 2019.



"Avanza 1.300 kira-kira sekitar 60-70 persen. Paling banyak 1.3 G M/T," sebut Soerjo.

Sebanyak 4.619 unit Avanza yang dikirim ke garasi konsumen selama Maret 2019 adalah bermesin 1.300 cc. Atau, bisa dibilang 71 persen penjualan Avanza didominasi oleh mesin 1.300 cc.

Memang, penjualan Avanza 1.3 dan 1.5 jika digabungkan menjadi mobil paling laris di atas Mitsubishi Xpander. Tapi, bagaimana seandainya Avanza cuma punya mesin 1.500 cc seperti kompetitornya?

Masih berdasarkan data penjualan retail yang diperoleh detikcom, dalam persaingan low MPV bermesin 1.500 cc, Avanza 1.5 termasuk Veloz hanya terjual 1.857 unit. Kalau Avanza cuma punya mesin 1.500 cc, mobil sejuta umat itu bisa kalah dibanding kompetitornya. Karena penjualan Avanza terbesar ada di mesin 1.300 cc.



Di segmen low MPV bermesin 1.500 cc, Mitsubishi Xpander masih memimpin. Mobil itu terjual sebanyak 6.327 unit. Di posisi kedua ada Suzuki Ertiga dengan 1.968 unit dan Avanza 1.5 (termasuk Veloz 1.5) sebanyak 1.857 unit di bawahnya. Kemudian ada Honda Mobilio dengan penjualan 1.430 unit. Sisanya ada Nissan Livina 740 unit, Wuling Confero S 553 unit, dan Grand New Xenia 1.5 sebanyak 90 unit.

"Kalau kami melihat market kayak lembaran kertas putih, masing-masing maker mau main di mana, jadi nggak akan mungkin market ini isinya Toyota semua, 70% impossible. Tapi kita mau pilih customer yang mana. Jadi brand-brand lain berusaha mencari celah di mana kira-kira dia bisa bermain. Kalau dia buat produk yang sama dengan Avanza misalnya, mereka nggak bisa untuk masuk, karena di situ sudah memang loyalisnya Avanza, misalnya di kelas Avanza 1.3. Akhirnya dia pakai strategi lain, apakah main di 1.5, main di low cost, jadi memang nanti brand-brand itu cari cara gimana caranya membuat produk yang bisa ngambil sekian marketnya," kata Soerjo.

(rgr/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com