Penjualan Mobil Anteng di Tahun Pemilu

Penjualan Mobil Anteng di Tahun Pemilu

Rizki Pratama - detikOto
Selasa, 08 Jan 2019 17:58 WIB
Penjualan Mobil Anteng di Tahun Pemilu
Logo Toyota Foto: Ari Saputra
Jakarta - Tahun 2019 merupakan tahun yang sibuk di dunia politik Indonesia dengan adanya pemilu legislatif dan pemilihan presiden untuk periode 2019-2024. Mau tidak mau rangkaian dan berbagai kegiatan an memberikan pengaruh pada sektor ekonomi khususnya industri otomotif dalam negeri.

Toyota sendiri mengatakan bahwa momen sekali 5 tahun ini tidak akan banyak mempengaruhi bisnis mereka. Pernyataan ini didasarkan oleh pengalaman Toyota pada Pilpres 2014 lalu.



SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau dari Pilpres yang dulu-dulu tidak terlalu banyak pengaruh ya. Kalau untuk besok ya kita lihat sejarah ya baik baik saja, jadi market tetap tumbuh positif. Kita confident apa lagi infrastruktur lebih baik, kan ekonomi bisa meningkat juga ya di tahun 2020 mendatang," ungkap Wakil Presiden PT Toyota-Astra Motor Henry Tanoto, saat ditemui usai peluncuran Toyota All New Camry di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan (8/1/2019).

Terlepas dari momen Pilpres 2019 ini, Toyota melihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia memproyeksikan tahun 2019 akan meningkat dibanding tahun 2018. Faktor yang meyakinkan Toyota akan hal tersebut adalah nilai tukar, inflasi, dan suku bunga.

"GDP kita akan terus tumbuh mungkin akan lebih baik dari tahun lalu. Kita hati-hati lihat harga komoditas seperti tahun lalu mulai agak turun sedikit kemudian stabil. Faktor lain yang kita lihat adalah ada hubungannya dengan nilai tukar, inflasi, dan interest rate. Melihat pertimbangan ini di tahun ini rasanya kita masih optimis pasar akan tetap tumbuh cuma mungkin tumbuhnya nggak signifikan," tutur Henry.



Dengan kepercayaan diri tersebut Toyota merasa yakin bisa mempertahankan posisi mereka di pasar mobil Indonesia pada tahun 2019. "Kalau market bisa tumbuh 5 persen harapan kita market share kita di tahun 2018 bisa dipertahankan di tahun 2019. 2018 marketnya sekitar 31 persen jadi paling tidak ingin kita pertahankan," tutup Henry.


(rip/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads