Selasa, 22 Mei 2018 19:57 WIB

RI Mau Buat Kendaraan Listrik Nasional, Ini Total Dana yang Harus Disiapkan

Ruly Kurniawan - detikOto
Mobil listrik Foto: Rengga Sancaya Mobil listrik Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyambut positif surat rekomendasi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke Pemerintah untuk memiliki mobil listrik dengan brand lokal. Rekomendasi itu sesuai mandat pasal 6 huruf e pasal 14 UU Nomor 30 tahun 2002 terkait pelaksanaan tugas monitoring penyelenggaraan negara.



Namun sebelum sampai di situ, Gaikindo memprediksi ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Salah satunya adalah total ongkos penelitian dan produksi yang harus disediakan.

Melihat investasi General Motors (GM) untuk lakukan penelitian terhadap mobil listrik dan baterainya, setidaknya kocek yang disediakan sekitar Rp 60 sampai 80 triliun.

"Mobil listrik tujuannya agar emisi gas buang yang lebih bersih dan mengurangi bahan bakar fosil, sehingga lebih hemat. Nah ini kita harus lihat dari segala arah ke-2 tujuan tersebut," kata Ketua Umum Gaikindo Yohanes Nangoi di kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (22/5/2018).

Salah satunya adalah biaya yang harus disiapkan. Berdasarkan pantauan Nangoi Pemerintah menyiapkan dana sekitar Rp 40 sampai 45 triliun untuk penelitian kendaraan tanpa mesin tersebut.



"GM itu menginfestasikan Rp 60-80 triliun dan berkerja sama dengan LG Korea untuk buat mobil listrik dan baterai serta managemen baterainya. Toyota juga bekerjasama dengan Suzuki. BMW dengan Samsung," papar Nangoi.

"Indonesia mau buat sendiri boleh, terutama baterainya. Kita sangat senang. Tapi harus ingat juga kalau Lithium, kita harus impor karena tidak punya Lithium. Harus impor dari Bolivia, China, dan sebagainya," lanjutnya.

"Nah perindustrian mengatakan kita sedang coba buat baterai pakai nikel. Nah ini kita akan dukung research-nya. Saya lihat juga dana yang disediakan adalah sekitar Rp 4 sampai 4,5 triliun," kata Nangoi lagi.

Kalau hal ini dilaksanakan akan membuka lahan pekerjaan baru di Indonesia.

"General Motor perlu 1.700 sampai 2.000 researcher yang pinternya kayak setan untuk melakukan ini. Nah ini kita dukung karena akan melibatkan banyak ahli dalam negeri," ucap Nangoi.

Tapi harus dikatakan bahwa jangan sampai seluruh komponen kendaraan listrik dibawa dari luar negeri atau Impor. Sebab, hal itu akan mematikan industri otomotif dalam negeri yang sedang berkembang.

"Tapi kalau semuanya kita impor, hanya ngejait saja, ini namanya mematikan industri yang telah kita bangun," pungkasnya. (ruk/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed