Masih Banyak yang Ogah Beli Mobil Listrik

Masih Banyak yang Ogah Beli Mobil Listrik

Dina Rayanti - detikOto
Jumat, 10 Nov 2017 07:34 WIB
Masih Banyak yang Ogah Beli Mobil Listrik
Mobil listrik Nissan Leaf (Foto: Dikhy Sasra)
Washington - Mobil listrik saat ini sedang menjadi perbincangan di seluruh dunia dan diprediksi menjadi salah satu mobil masa depan. Tapi itu semua sepertinya masih sekadar prediksi saja.

Dalam sebuah laporan yang dirilis oleh CNBC, Jumat (10/11/2017) rencana pengurangan insentif pajak terhadap mobil listrik di Amerika membuat para produsen menjual mobilnya ke kalangan-kalangan umum.

Sebagai contoh, 16 juta pengguna internet setiap bulannya, kurang dari 5 persen saja yang mencari mobil listrik ataupun mobil hybrid dalam sebuah situs jual beli mobil yang dicatat oleh analis Kelley Blue Book Rebecca Lindland.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Model mobil hybrid seperti Prius sebenarnya bukan hal asing di dunia mobil karena sudah dikenalkan sejak tahun 1997 dan semenjak itu banyak kompetitor juga muncul meluncurkan mobil hybrid. Namun hingga saat ini penjualan mobil hybrid tak mencapai tiga persen dari total penjualan mobil.

"Pastinya tidak baik untuk mencabut insentif mobil listrik maupun hybrid karena mungkin akan juga berdampak pada penjualannya. Tetapi juga sepertinya kenaikan penjualan mobil listrik bukan dipengaruhi oleh insentif-insentif itu," kata Lindland.

"Para pembeli mobil tidak melihat mobil jenis hybrid dan listrik bisa memenuhi kebutuhan mereka dibandingkan mobil bermesin konvensional," lanjut Lindland.

Banyak alasan mengapa mobil listrik kurang disambut baik oleh para konsumen walaupun generasi milenial misalnya mulai menunjukkan minat tinggi pada mobil listrik. Infrastruktur pengisian juga saat belum banyak jumlahnya dan terus pembangunannya di berbagai negara. Para produsen mobil pun tengah menyiapkan model baru yang tentunya menjadi pilihan buat konsumen.

Para analis juga memprediksi harga baterai yang turun drastis setelah beberapa tahun pemakaian membuat mobil listrik sedikit lebih mahal daripada mobil bermesin konvensional membuat konsumen ogah membelinya. (dry/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads