Lebih Efisien Jika Indonesia yang Ekspor Mobil untuk Australia

Lebih Efisien Jika Indonesia yang Ekspor Mobil untuk Australia

Dina Rayanti - detikOto
Jumat, 24 Mar 2017 18:06 WIB
Lebih Efisien Jika Indonesia yang Ekspor Mobil untuk Australia
Ekspor Mobil Toyota (Foto: Khairul Imam Ghozali)
Jakarta - Seperti diketahui, Australia kini tidak lagi memiliki pabrik untuk memproduksi mobil. Melihat peluang tersebut, pemerintah sedang mendorong agar produsen mobil di Indonesia bisa mengekspornya ke sana.

Mengekspor mobil dari Indonesia ke Australia diklaim lebih efisien. Karena secara letak geografis lebih dekat daripada mendatangkan mobil dari Thailand.

"Australia tahun ini nggak punya lagi industri otomotif. Artinya ada 1,2 juta pasar mobil di Australia, Indonesia siap nggak ekspor ke sana. MPV bukan mobil yang diminati di Australia, maunya sedan, pikap atau double cabin, nah ini kita punya produk itu nggak, sebagian udah punya tapi sudah dibuat di sini atau belum, itu menjadi menarik karena dari segi geografi Indonesia jauh lebih dekat," kata Sekjen Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, di Jakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau kita ekspor dari Jawa misalnya dari Cilacap begitu dekat sekali ke Australia, savingnya luar biasa daripada dari Thailand, bisa 3-4 hari pelayaran," lanjut Kukuh.

Meski begitu, kata Kukuh, menjadikan Indonesia basis ekspor ke Australia tidak sederhana. Soalnya para prinsipal telah memetakan basis ekspor di suatu negara untuk memproduksi barang tertentu.

"Ekspor tidak sesedarhana itu, memang di Australia ada 1,2 juta dan ada Selandia Baru dan sebagainya, prinsipal memang berperan dan masalahnya memang sudah dipetakan. Cuma kita mencoba mengatakan realitasnya ini lho dari segi geografinya Indonesia memungkinkan," tutur Kukuh.

Ia juga berharap Indonesia bisa mengekspor bukan hanya ke Australia, namun juga bisa ke negara-negara Afrika atau Asia Selatan.

"Ekspor memang nggak mudah, terus terang aja pastinya ingin bisa ekspor bukan hanya ke Australia, tapi juga bisa ke Nigeria, Aljazair, Bangladesh, Iran itu juga potensi. Masalahnya kita harus pelajari prinsipalnya diajak karena bisa timbul lapangan pekerjaan berapa yang bisa tercipta," tutup Kukuh. (dry/rgr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads