6 Poin Minus Mobil Listrik yang Jarang Diumbar

6 Poin Minus Mobil Listrik yang Jarang Diumbar

Dina Rayanti - detikOto
Kamis, 08 Des 2016 12:22 WIB
6 Poin Minus Mobil Listrik yang Jarang Diumbar
Foto: Carscoops
Jakarta - Saat ini mobil listrik menjadi topik perbincangan hangat di industri otomotif. Seluruh produsen mobil berlomba-lomba menciptakan mobil yang diklaim ramah lingkungan ini. Bahkan beberapa sudah bisa dibeli saat ini seperti Nissan, Tesla dan BMW.

Mesin listrik ini lebih kecil, kompak, dan lebih efisien dari mesin yang menggunakan bahan bakar pada umumnya dan baterainya semakin lama terus diperbaiki.

Yang menjadi masalah saat ini orang-orang tak suka menunggu lama sementara mengisi ulang baterai mobil listrik memakan waktu yang tidak sebentar. Mereka menginginkan mobil listrik paling tidak bisa berfungsi sama seperti mobil yang ada saat ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan kata lain walaupun para produsen mobil tetap pada komitmennya mengembangkan mobil listrik namun mobil listrik yang ada saat ini di pasaran pastinya akan usang dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun ke depan misalnya saja baterai yang masih harus baik di 2026. Harga jual kembali juga sudah pasti menurun di masa mendatang karena banyak mobil listrik yang lebih canggih dan pengisian ulang baterai yang lebih cepat.

Seperti dilansir autoevolution, Kamis (8/12/2016) berikut beberapa poin minus mengenai mobil listrik yang harus diperhatikan

Pengiriman yang Sulit

Foto: Rengga Sancaya
Hampir seluruh komponen mobil konvensional biasanya dibuat dengan pabriknya agar lebih dekat. Beberapa produsen bahkan membuka cabangnya di beberapa benua agar komponennya bisa dijual lebih murah. Tapi situasinya berbeda dengan merek ekslusif yang tidak memikirkan harga namun si produsen memiliki akses agar biaya pengiriman lebih murah.

Namun berbeda halnya saat mobil hybrid mulai dijual di pasaran, mereka mengkritisi soal penggunaan baterai Ni-Mh. Material tersbut berasal dari tambang yang berada di lokasi tersiolasi di dunia dan jarang namun harus dikirimkan lagi sebelum akhirnya menjadi baterai, setelah itu dikirim lagi ke pabrikan mobil yang memproduksi mobil hybrid.

Situasi tersebut sepertinya tidak jauh berbeda dengan mobil listrik kecuali produsen mobil listrik membuat baterainya sendiri. Rantai pengiriman yang panjang dan komponen mahal harus melewati jarak jauh hanya untuk membuat baterai mobil listrik.

Komponen yang Mahal

Foto: Rengga Sancaya
Mobil listrik membutuhkan material khusus untuk baterainya. Pertama mobil hybrid menggunakan baterai Ni-Mh, namun mobil listrik saat ini mengandalkan baterai Li-Ion. Komponen termahalnya adalah Lithium dan semakin hari semakin mahal saja.

Penghasil lithium terbesar adalah Australia, Chili, Argentina, dan Zimbabwe. Sama seperti minyak, lithium juga merupakan sumber daya yang terbatas dan menjadi mahal karena banyak permintaan dari produsen otomotif. Hingga sesuatu yang lebih baik berhasil ditemukan, lithium bakal menjadi sesuatu yang langka dan mahal. Di waktu yang sama harga mobil listrik akan lebih tinggi lagi karena harga lithium.

Permasalahannya bukan hanya lithium yang menjadi komponen langka mobil listrik tapi ada lagi yang lain seperti dysprosium, lanthanum, neodymium, dan praseodymium.

Daur Ulang Baterai

Baterai mobil listrik
Prius generasi pertama meluncur 20 tahun yang lalu. Baterainya sudah pasti tidak diservice selama itu, pastinya sudah diganti. Jika itu terjadi juga saat ini bukan tidak mungkin kita baru mengganti baterai Ion Lithium di 2045.

Baterai Lithium-Ion memang bisa didaur ulang tapi saat ini belum ada pasar yang melakukan daur ulang terhadap baterai tersebut. Terlebih pasar mobil listrik belum besar saat ini. Sementara Toyota memiliki program untuk mengumpulkan baterai-baterai yang sudah lama dan memberikan yang baru. Siklus tersebut masih terus dilakukan agar mobil tersebut tetap ramah lingkungan.

Perbaikan yang Tak Mudah

Foto: M Luthfi Andika
Mobil listrik pastinya sulit untuk diperbaiki oleh pemiliknya. Saat ini orang-orang semakin jarang memperbaiki mobil mereka yang semakin canggih karena kesulitannya namun menstarter mobil listrik tampaknya tak bisa lagi dilakukan jump start.

Ini berarti mobil listrik harus lebih andal dari mobil konvensional yang ada saat ini. Bayangkan jika kita keluar rumah dan mengalami kerusakan mesin yang cukup parah, apabila mobil konvensional kita pasti langsung bisa membawanya ke bengkel terdekat bagaimana dengan mobil listrik pasti hanya tempat tertentu yang melayaninya.


Tak Bisa Jelajah Daerah Terpencil

Foto: Istimewa
Meskipun banyak produsen mobil listrik mengklaim mobilnya bisa dipakai betualang, tapi mereka tak ada yang berpergian ke daerah yang terpencil tanpa fasilitas listrik yang memadai.

Memang hal tersebut tidak diprediksi bakal terjadi di masa depan namun jika terjadi itu membuat mobil listrik harus diisi ulang sebanyak mungkin agar bisa menepuh perjalanan panjang.

Tak hanya daerah terpencil melainkan juga daerah yang iklimnya tidak menentu sama seperti mobil hidrogen yang juga membutuhkan prosedur dan pengisian ulang yang sulit.

Pembaharuan Listrik dan Hidrogen

Mobil hidrogen
Meskipun mobil listrik dan hidrogen tak menghasilkan emisi karbon, namun sumber-sumber tenaga listriknya berasal dari energi yang tidak terbaharui. Walaupun di banyak negara kini sedang fokus dalam pengembangan energi yang ramah lingkungan tapi perkembangannya sangat lamban.

Mungkin hal tersebut membuat kita berpikir mobil hidrogen adalah yang terbaik namun tidak sepenuhnya benar karena pabrik berskala besar mengekstraksi gas dari metana yang menimbulkan karbondioksida dan karbon monoksida.
Halaman 2 dari 7
(dry/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads