Salah satunya dengan mensinkronkan dunia pendidikan dengan industri otomotif. Seperti yang disampaikan Direktur Administrasi TMMIN Bob Azam, di Karawang Jawa Barat.
"Problem di kita antara pendidikan dengan industri gak matching. 50 persen orang lulus sekolah tidak sesuai dengan pekerjaannya," ujar Bob.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Bob, negara lain sudah melakukan hal itu. Bahkan sudah membicarakan pendidikan apa saja yang dibutuhkan industri dalam 5-10 tahun mendatang.
"Negara lain ada bicara dengan dunia pendidikan, misalkan 5-10 tahun lagi skill apa yang bakal kurang bermanfaat dan apa yang dibutuhkan. Pendidikan tidak disiapkan untuk 'yesterday jobs, but for today and future jobs' (bukan pekerjaan yang sudah dikerjakan tetapi untuk hari ini dan masa mendatang-Red)," ucapnya.
Bob menjelaskan, dirinya pernah mendapat pertanyaan dari seorang akademisi asal Singapura, apakah di Indonesia pernah menutup satu jurusan yang sudah tidak bermanfaat lagi?
"Saya mendapatkan pertanyaan, seberapa sering kita sesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri. Bahkan dia bertanya lebih menusuk lagi, ada tidak jurusan yang ditutup, karena tidak dibutuhkan oleh industri? Saya tanya balik, Singapura seperti apa? Dia jawab, off course. Kalau tidak dibutuhkan kami tutup, ASAP. Jadi ada program penutupan jurusan karena tidak dibutuhkan lagi di industri," katanya. (lth/ddn)











































Komentar Terbanyak
Segini Hematnya Pakai Motor Listrik, Bisa Nabung Belasan Juta Rupiah!
Ramai Aksi Warga Perbaiki Sendiri Jalanan, Padahal Sudah Bayar Pajak Kendaraan
QR Code Pertalite Kendaraan Nunggak Pajak Disarankan Dihapus