Seperti dilansir Autoevolution, hasil studi dari peneliti asal Skotladia mengungkapkan, mobil listrik dan hybrid lebih buruk bagi lingkungan. Namun, hal itu bukan dipengaruhi oleh limbah baterainya, melainkan karena ban dan rem.
Peter Achten dan Victor Timmers, peneliti dari Edinburgh University menyebut, berat tambahan dari baterai membuat mobil ramah lingkungan justru lebih merusak lingkungan. Sebab, mobil jenis itu akhirnya bakal memproduksi partikulat berlebih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika fase akselerasi dan pengereman, mobil jenis ini mengalami keausan rem dan ban yang lebih cepat. Sehingga pada akhirnya, partikulat tertentu akan lebih banyak.
Selain itu, bobot mobil yang lebih berat juga menyebabkan jalanan lebih cepat rusak. Nantinya, permukaan jalan bisa melepaskan beberapa partikel.
Hasil penelitian dua ilmuwan Skotlandia ini dipublikasikan di jurnal Atmospheric Environment. Para peneliti menembukan bahwa partikulat bisa berasal dari rem, ban dan jalan.
Peneliti mengklaim, partikulat yang disebabkan oleh tiga faktor itu justru lebih bahaya bagi manusia dibanding kendaraan konvensional. Sebab, partikulat itu lebih berpotensi menyebaban serangan asma dan meningkatkan kemungkinan serangan jantung atau stroke.
The Times mencatat, artikel yang dihasilkan dari keausan ban, keausan rem dan kerusakan jalan berbahaya bagi manusia karena kurannya. (rgr/ddn)












































Komentar Terbanyak
Resmi Turun, Ini Harga BBM Se-Indonesia Juli 2026
Bahlil: Harga BBM Baru Naik 3 Minggu, Masa Udah Ditanya Kapan Turun
Insentif Kendaraan Listrik Molor lagi, Ini Alasan Menkeu Purbaya