Bos Ferrari: Ferrari Bikin SUV? Tembak Saya Dulu

Bos Ferrari: Ferrari Bikin SUV? Tembak Saya Dulu

Arif Arianto - detikOto
Kamis, 04 Feb 2016 13:09 WIB
Bos Ferrari: Ferrari Bikin SUV? Tembak Saya Dulu
Foto: Dadan Kuswaraharja
Washington -

Meski sahamnya telah tercatat di Bursa Efek New York, Amerika Serikat, namun Ferrari tak akan serta merta menggenjot penjualan secara membabi buta dengan membuat produk yang keluar dari pakem. Pabrikan asal Maranello, Italia, itu mengaku ogah membuat varian Sport Utilty Vehicle (SUV).

Seperti dilaporkan Car Advice, Kamis (4/2/2016), chairman Ferrari, Sergio Marchionne, dengan tegas menjawab pertanyaan sejumlah analis pasar saham. Pertanyaan itu adalah, akankah Ferrari membuat SUV untuk mengejar volume penjualan?

"Anda harus menembak saya dulu (sebelum minta Ferrari membuat SUV)," kata Marchionne.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Konsistensi untuk tidak membuat mobil sport selain model yang ada saat ini, bukanlah persoalan pakem semata. Namun, sikap itu merupakan kebanggaan Ferrari dan pendirinya, maupun bos Ferrari.

Ferrari juga mengaku tak risau dengan sikap pabrikan mobil mewah lainnya, yang akan memproduksi SUV. Lamborghini misalnya telah woro-woro bakal membuat Urus, Maserati dengan Levante, Bentley memproduksi Bentayga. Begitu pula dengan Rolls-Royce yang konsepnya disebut Cullinan, serta Porsche yang telah membuat Cayenne.

Nilai saham Ferrari sendiri telah jatuh 10,8 persen dari proyeksi penjualan sebelumnya. Bahkan, laba pada kuartal keempat tahun lalu merosot menyusul penurunan penjualan di China, namun pengiriman mobil ke konsumen secara keseluruhan tumbuh 6 persen.

Tahun ini pabrikan berlambang kuda jingkrak itu menargetkan penjualan 7.900 unit. Jumlah itu naik 3 persen dibanding penjualan tahun lalu.

Sementara, pada pertengahan bulan lalu, Marchionne sempat berujar pihaknya bisa saja meningkatkan produksi Ferrari menjadi 9.000 unit pada 2019 mendatang. Namun target itu harus dilihat apakah sesuai dengan dictum yang ditetapkan pendirinya.

"Ferarri akan memproduksi mobil dalam jumlah yang kurang dari yang diinginkan konsumen (atau lebih kecil dari permintaan). Jika itu dipatuhi, maka perusahaan akan baik-baik saja," paparnya.

(arf/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads