Bukan begitu, menurut salah seorang insinyur Jaguar, teknologi semi otonom yang sekarang tengah ngetren itu berbahaya.
Karenanya, fitur pencegah tabrakan yang ada di mobil Jaguar, hanya membuat mobil melambat saja, tanpa membuat mobil benar-benar berhenti. Jaguar membiarkan pengemudinya untuk mengerem mobil sampai berhenti. Sistem pencegah tabrakan hanya ada untuk membantu pengemudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika pengendara tahu mobil akan bisa menghindari tabrakan secara otonom, maka mereka tidak akan pernah berusaha untuk mencegah kecelakaan itu sendiri," ujar Manajer Proyek Jaguar XF Stephen Boulter seperti dikutip dari Mashable.com.
Padahal Jaguar XF memiliki perangkat keras yang sama dengan mobil merek lain yang sudah memiliki fitur otonom, contohnya Tesla. "Untuk membuat mobil otonom, yang Anda butuhkan adalah sebuah Electric Power Steering, bukan mobil listrik," ujarnya sambil mengacu pada Tesla.
Jaguar XF memang mobil yang tak kalah canggih dari Tesla, mobil itu memiliki Adaptive Cruise Control yang juga memiliki serangkaian kamera digital dan sensor radar seperti yang dimiliki mobil otonom Tesla. Menggabungkan fitur itu dan EPS (Electric Power Steering), mobil bisa melaju sendiri. Namun Jaguar tidak melakukannya, karena mereka merasa, teknologi itu belum siap, setidaknya dari aspek keamanan.
"Jika ada satu masalah pada Autopilot, maka itu akan membawa teknologi itu ke masa 1 dekade lalu," ujarnya.
Itu terjadi karena jika ada mobil otonom yang mengalami tabrakan, maka akan menimbulkan kekhawatiran di benak pengendara dan para pembuat kebijakan. Mobil otonom pun bisa terhambat perkembangannya. (lth/ddn)












































Komentar Terbanyak
Ribuan Pikap India buat Kopdes Merah Putih Telanjur Masuk Indonesia
Konversi 120 Juta Motor Bensin ke Listrik Terancam Gagal, Cuma Jadi Ilusi
Mobil Pribadi Isi Pertalite Dibatasi, per Hari Maksimal Rp 500 Ribu