Dikutip dari situs Sekretariat Kabinet, Senin (9/2/2015), Jokowi mengatakan, MoU tersebut bersifat business to business antar dua perusahaan swasta.
Kehadiran Jokowi dalam MoU tersebut karena memenuhi undangan mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohammad dan PM Dato Sri Mohammad Najib Tun Abdul Razak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jokowi tidak menjawab pertanyaan mengenai spesifik mobil Proton dimaksud, karena itu menyangkut kesepakatan antar dua perusahaan. "Ditanya ke sana, saya sampaikan itu business to business, jadi ditanyakan ke sana," tukasnya.
Kemudian, Jokowi juga tidak menjawab soal rencana menjadikan Proton sebagai mobil nasional.
"Saya mesti harus melihat studi kelayakan seperti apa kemudian targetnya yang musti dicapai itu seperti apa," kata Jokowi.
Dia mengatakan, Indonesia adalah negara yang sangat terbuka, yang menerima investasi dari manapun, termasuk dari Malaysia.
"Ya kalau investasi ya silakan, mau dari Korea juga silakan, mau dari Jepang yang sudah banyak dan mau investasi lebih besar lagi silakan, kita butuh investasi," tutur Jokowi.
(dnl/ddn)












































Komentar Terbanyak
Resmi Turun, Ini Harga BBM Se-Indonesia Juli 2026
Insentif Kendaraan Listrik Molor lagi, Ini Alasan Menkeu Purbaya
Bahlil: Harga BBM Baru Naik 3 Minggu, Masa Udah Ditanya Kapan Turun