Baru-baru ini, Hyundai telah mengambil langkah yang tidak biasa karena merevisi angka jarak tempuh yang diperkirakan pada Sonata terbaru. Raksasa Korea ini mengatakan kalau ada peningkatan 6 persen dari efisiensi bahan bakar di sedan andalannya itu.
Klaim pertama Hyundai adalah 29,6 mpg atau sekitar 12,6 km/liter. Beberapa hari kemudian, Hyundai merevisi angka tadi menjadi 12,1 km/liter (28,5 mpg) atau hanya naik 2 persen saja dari model sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah antisipatif Hyundai ini bagi para analis memang akan berdampak buruk bagi brand tersebut untuk jangka pendek tapi tidak jangka panjang.
Sebab, tahun lalu saja Hyundai --bersama KIA-- harus membayar US$ 395 juta atau sekitar Rp 4,72 triliun untuk menyelesaikan tuntutan hukum yang diajukan oleh pemilik mobil yang merasa dibohongi karena klaim efisiensi bahan bakar yang dilebih-lebih kan.
Perjanjian pembayaran kompensasi itu akan mempengaruhi sekitar 600.000 pemilik mobil Hyundai dan 300.000 KIA di Amerika Serikat. Mobil yang disoroti adalah model tahun 2011-2013.
Cerita ini bermula pada bulan November 2012 saat kedua perusahaan mengakui bahwa mereka membesar-besarkan klaim tingkat efisiensi bahan bakar mereka setidaknya menambah 1 mpg (sekitar 0,43 km/liter) pada kendaraan mereka.
Pengakuan ini diberikan setelah US Environmental Protection Agency menemukan ketidak-cocokan antara klaim dan hasil nyata di 13 model Hyundai dan KIA model tahun 2011-2013.
Akibatnya ada 53 tuntutan hukum pada kedua merek itu di Amerika Serikat. Tuntutan itu kemudian digabungkan.
Pembayaran ini untuk mengganti selisih klaim dan kenyataan. Uang bensin yang tidak semestinya dikeluarkan akibat selisih tadi selama pemilik memiliki mobil harus diganti. Untuk Hyundai saja, rata-rata selisih klaim dan kenyataan ini mengharuskan mereka membayar sekitar US$ 320.
Diperkirakan, Hyundai membayar total sekitar US$ 210 juta untuk masalah ini dan KIA membayar sekitar US$ 185 juta. Itu kalau pemilik setuju dengan metode penyelesaian seperti ini.
(syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
Impor Pickup India Disebut Lebih Murah, Segini Harganya
Pick Up 4x4 India Jadi Kendaraan Operasional: Biaya Perawatan Mahal-Suku Cadang Terbatas