Namun meski memiliki lebih banyak merek, pabrikan Eropa tidak cukup mendongkrak angka penjualan. Di 2012 pabrikan Eropa hanya mampu menjual hingga 0,9 persen dari total penjualan kendaraan di Indonesia.
Bahkan ada kesan kalau pabrikan Eropa merasa dianaktirikan oleh kebijakan pemerintah Indonesia. Bila dibandingkan dengan pabrikan Jepang di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jongkie pun menjelaskan kepada pabrikan Eropa di Indonesia, bahwa kerjasama Indonesia dengan Jepang bukan hanya mengenai industri otomotif saja.
"Eropa merasa dianaktirikan, dengan Indonesia melakukan perjanjian kerjasama Jepang-Indonesia, yang didalamnya mengatur biaya masuk ke indonesia," ucap Jongkie.
Jongkie pun menjelaskan kepada produsen Eropa tersebut kalau kerjasama antara Jepang_indonesia itu tidak hanya sekedar industri otomotif.
"Bahkan perjanjian yang setebal buku (IJ-EPA) itu, perjanjian industri otomotif itu hanya beberapa lembar saja," tambahnya.
Jongkie pun langsung memberikan masukan untuk Eropa dapat meniru Jepang yang lebih terbuka dalam bekerja sama antar negara. Tapi jangan lupa, itu bukan hanya otomotif aja, karena masih banyak kerjasama yang lain.
"Contohnya, sekarang para perawat Indonesia bisa langsung bekerja di Jepang tanpa dibatasi, dan masih banyak perjanjian lainnya lagi. Sehingga bisa menemukan Win Win Solution untuk kedua negara," ucap Jongkie.
Sehingga Jongkie menyimpulkan, untuk pabrikan Eropa tidak perlu merasa dianaktirikan di Indonesia.
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Ribuan Pikap India buat Kopdes Merah Putih Telanjur Masuk Indonesia
Mobil Pribadi Isi Pertalite Dibatasi, per Hari Maksimal Rp 500 Ribu
Australia 'Lumpuh', Hampir 500 SPBU Kehabisan BBM!