Siap Cerai, Lotus Cari Pengganti Proton

Siap Cerai, Lotus Cari Pengganti Proton

- detikOto
Jumat, 03 Feb 2012 17:41 WIB
Siap Cerai, Lotus Cari Pengganti Proton
Jakarta - Isu panas kembali bergulir di seputar hubungan Lotus dan Proton. Kini, CEO Lotus, Dany Bahar dikabarkan sedang mencari investor baru untuk melepaskan diri dari produsen mobil Malaysia, Proton.

Bahkan Bahar dikabarkan sudah mencari investor untuk Lotus sejak musim panas 2011 lalu dan makin menguat setelah Proton diambil alih oleh konglomerat Malaysia Syed Mokhtar Al- Bukhary yang membuat nasib Lotus jadi terombang-ambing dan direksi Proton yang baru pun sudah mengatakan akan membuka opsi untuk menjual Lotus.

Namun untuk mengambil Lotus dari Poton, diperkirakan butuh dana hingga US$ 792 juta atau sekitar Rp 7 trilin. Sebuah angka yang tergolong tinggi, bahkan untuk sekelas Lotus sekalipun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proton sendiri memiliki Lotus sejak pertengahan 90an. Dan belum lama ini, Proton yang menjadi pemegang saham Lotus itu beralih tangan ke konglomerat Malaysia Syed Mokhtar Al- Bukhary dari perusahaan BUMN milik pemerintah Malaysia Khazanah Nasional Berhard yang melepaskan sekitar 42,7 persen saham di Proton.

Untuk menebus saham tersebut, Syed Mokhtar Al- Bukhary yang membeli Proton lewat perusahaan DRB-Hicom miliknya mengeluarkan dana hingga US$ 411,9 juta dan menjadikan pembelian ini jadi rekor baru dalam dunia otomotif Malaysia.

Rencana penjualan merek mobil Lotus itu memang bisa saja terjadi. Apalagi setelah laporan yang menyatakan bahwa Lotus tidak akan memberi keuntungan untuk Proton sejak dibeli pada 1996 hingga 2014 nanti.

Lotus yang dahulu mobilnya digunakan oleh James Bond ini dibeli oleh Proton sejak tahun 1996. Tapi sejak itu hingga saat ini, Lotus tidaklah memberi keuntungan finansial bagi Proton bahkan hingga tahun 2014 mendatang. Saat ini Lotus hanya mampu menjual sekitar 2.700 mobil saja per tahun.

Bahkan pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2011 silam, Lotus membukukan kerugian hingga 26,1 juta atau dua kali lipat dari kerugian tahun sebelumnya.

Proton sendiri bagi Malaysia adalah simbol industrialisasi. Sejak berdiri Proton pun menikmati berbagai fasilitas dari pemerintah Malaysia dan di sisi lain, pabrikan luar diberi 'kesulitan' yang banyak sehingga sulit berkembang di Malaysia.

Kemungkinan besar keengganan Proton melepas Lotus bukanlah berhubungan dengan laba, melainkan akses teknologi dimana pabrikan otomotif Jepang seperti Mitsubishi telah membatasi kerja sama teknologi mereka dengan Proton.

Untuk itu, Proton perlu sebuah pabrikan mobil yang sudah memiliki teknologi dan sejarah seperti Lotus untuk pelan-pelan diadopsi teknologi-teknologi yang mereka miliki. Proton pun berkali-kali membantah berniat menjual Lotus ke pihak lain.

(syu/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads