Wanita Mengemudi Sendiri Jadi Akhir dari Keperawanan?

Wanita Mengemudi Sendiri Jadi Akhir dari Keperawanan?

- detikOto
Senin, 05 Des 2011 13:53 WIB
Wanita Mengemudi Sendiri Jadi Akhir dari Keperawanan?
Riyadh - Dewan agama di Arab Saudi, Majlis al-Ifta’ al-A’ala menentang desakan untuk membolehkan para wanita mengemudikan mobil sendiri. Dewan itu bahkan mengaitkan kalau mengemudi akan menyebabkan seks pranikah dan pada dasarnya menandai akhir dari keperawanan.

Laporan yang disampaikan kepada Dewan Syura negara ini mendukung gagasan lama bahwa mengizinkan wanita untuk mengemudi akan menyebabkan peningkatan interaksi antara wanita dan pria dan tentu akan meningkatkan godaan yang pada akhirnya di masa mendatang bisa menjadi pintu gerbang yang bisa memacu prostitusi, pornografi, perceraian dan homoseksualitas, demikian laporan Wall Street journal.

Sementara kalangan yang menentang larangan menganggap kalau hak untuk mengemudi harus diberikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena sebenarnya, tidak ada aturan baku yang mengaturnya, tetapi kementerian dalam negeri setempat beralasan aturan tersebut dibuat berdasarkan fatwa, atau perintah agama, yang mengatakan perempuan seharusnya tidak diizinkan untuk mengemudi.

Seorang wanita bernama Sheima Jastaniah bahkan sampai dijatuhi hukuman cambuk di sebuah pengadilan di Jeddah. Sheima hendak dihukum 10 cambukan karena tertangkap sedang mengemudi pada bulan Juli meski kemudian hukuman tersebut dibatalkan karena Raja Abdullah memberikan pengampunan.

Raja Abdullah juga sudah mengatakan akan memberikan wanita kesempatan memberikan suara atau mencalonkan diri dalam pemilu lokal untuk pertama kalinya dalam sejarah pada tahun 2015 mendatang.

Sejak pertama kali diserukan, perjuangan wanita Arab Saudi untuk diizinkan mengemudi telah menuai banyak dukungan. 14 Senator beserta Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Rodham Clinton bahkan secara terbuka mengemukakan dukungannya terhadap kebebasan mengemudi bagi wanita.

Aktivis wanita di Ukraina bahkan juga sampai rela berdemo dengan bertelanjang dada. Sedangkan aktivis-aktivis feminisme Arab juga tidak henti melontarkan kecamannya terhadap aturan tersebut.


(syu/syu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads