"Saya sudah tidak berpikir lagi. Biar saja, biar urusan yang berwenang. Kami mau minta tolong lewat Kementerian Pendidikan untuk mengeluarkan surat rekomendasi mengeluarkan mobil-mobil mahasiswa," kata Pembantu Rektor 1 ITS, Herman Sasongko kepada detikOto, Jumat (14/10/2011).
Ia berharap dengan cara itu pihak Bea dan Cukai segera mengeluarkan mobil-mobil mahasiswa yang sudah mengharumkan nama bangsa tersebut. "Saya harap dengan cara itu pihak penyita mau keluarin mobilnya," ucapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dan saat ini lanjut Herman pihak tim ITS belum tahu kapan harus melapor ke pihak Kemendiknas. Herman beserta tim akan mengkaji ulang sampai sejauh mana proses tersebut. Namun seperti yang diungkapkan Herman, proses pengaduan akan secepatnya karena sudah sangat menyesengsarakan mahasiswa.
"Belum tahu kapan mau melapor, ini baru wacana. Tapi saya akan cek dulu sejauh mana negiosiasi ini," imbuhnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, tim mahasiswa ini mengikuti kompetisi kendaraan hemat energi SEM Asia 2011 di sirkuit F1 Sepang di Kuala Lumpur, Malaysia pada 6-9 Juli 2011 lalu
Sepuluh tim Indonesia yang mengikuti SEM Asia 2011 adalah ITS dengan tiga kendaraan Sapu Angin 3, Sapu Angin 4 dan Sapu Angin 5, ITB dengan Cikal dan Rakata, UI dengan Garuda Kevasha dan Kalabia, UGM dengan Semar Proto dan Semar Urban dan tim Politeknik negeri Pontianak (Polnep) dengan mobil Khatulistiwa Line.
Dalam ajang tersebut, mahasiswa Indonesia menoreh prestasi yang membanggakan.
Mesin ITS 4 mendapatkan Grand Prize (juara utama) di kelas internal combustion dan Cikal ITB meraih Grand Prize di Urban Gasoline Award.
Selain menyabet Grand Prize, Tim Mesin 4 yang mencatat jarak tempuh 150 km per liter menggunakan bahan bakar biodiesel (fatty acid methyl ester/FAME), juga menjadi pemenang Alternative Diesel Award (penghargaan bahan bakar diesel alternatif).
Tim Cikal ITB dengan 117 km per liter selain mendapat Grand Prize di
kategori Urban Gasoline, juga meraih Silver Award untuk kategori Internal Combustion Urban.
Selain berjaya di kelas Urban, tim Indonesia juga mendapat 2 penghargaan di kategori Off- Track yakni tim Semar Proto Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi terbaik di bidang Technical Innovation (Inovasi Teknik), sementara tim Rakata dari ITB meraih Communications Award.
Namun sayang, saat mobil ini diboyong kembali ke Indonesia malah harus tertahan lebih dulu di Pelabuhan Tanjung Priok selama 2,5 bulan lamanya. Bea Cukai beralasan penahanan mobil ini terjadi karena importir yang sempat bermasalah, sehingga secara prosedural lebih ketat.
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Pemerintah Ancam Cabut Izin Gojek-Grab Andai Tak Patuhi Komisi 8%
Viral Pengemudi Calya Ngamuk, Patahkan Spion-Wiper Mini Cooper
Pemilik Kendaraan yang Belum Bayar Pajak Didatangi Petugas Samsat