Pengadilan Negeri Vanersborg menolak permitaan Saab yang mengajukan kebangkrutan, melihat hal tersebut, chief executive Saab, Victor Muller pun langsung bereaksi dan mengatakan akan melakukan banding.
Dua serikat pekerja yang mewakili 3.700 pekerja yang ada di pabrik Saab pun membuat petisi agar pengadilan segera menyatakan pabrikan mobil tersebut bangkrut karena hingga saat ini gaji bulan Agustus mereka belumlah dibayar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya Saab yang selama ini merupakan merek di bawah General Motors, tidak jadi dihapus GM karena dijual ke perusahaan mobil sport asal Belanda yakni Spyker pada 2010 lalu.
Namun hal itu tetap tak bisa mendongkrak kinerja Saab, dalam beberapa bulan terakhir, Saab kesulitan memberikan gaji kepada karyawannya, bahkan di bulan Agustus, Saab tidak mampu memberikan karyawannya gaji.
Sejak April 2011, pabrik Saab di Swedia tidak lagi membuat mobil karena pemasok suku cadang menolak menyuplai suku cadang sebelum mereka menerima pembayaran.
Saab pun berupaya mencari pendanaan lagi kepada perusahaan China seperti Pang Da Automobile Trade Company dan Zhejiang Youngman Lotus Automobile. Kedua perusahaan tersebut tengah dibujuk untuk mau mengucurkan dana sebesar 245 juta euro (Rp 2,9 triliun) dan menjadi pemilik mayoritas Saab.
Tapi sayang, regulator di China belum menyetujui investasi tersebut dan pengadilan Swedia pun menyatakan keraguan bahwa kesepakatan tersebut akan bergerak maju secara tepat waktu.
"Kami belum mati," tegas Muller di konferensi pers pada hari Rabu setelah pengajuan aplikasi ke pengadilan seperti detikOto kutip dari New York Times, Jumat (9/9/2011).
(syu/ddn)










































