Direktur Road Safety Consultant dan Defensive Driving (JDDC), Jusri Pulubuhu menjelaskan kalau ada kesalahan paradigma akibat kurangnya referensi pada para pengguna kendaraan yang pada akhirnya mengakibatkan si pengguna sebenarnya tidak mengetahui pasti tindakan yang telah dia lakukan dan apa risikonya. Ini faktor terbesar yang membuat Cipularang rawan kecelakaan.
"Sebenarnya saya sudah bahas ini di 2007, lalu 2009 juga pernah kembali saya bahas masalah Cipularang ini. Masalah sebenarnya selain karena faktor alam adalah di manusianya," ujar Jusri kepada detikOto, Rabu (7/9/2011).
Jusri lalu menjelaskan kalau jalur dari arah Bandung ke Jakarta terutama di KM 90-100 memang banyak diwarnai jalan menurun lalu sedikit tikungan. Dengan kondisi seperti ini para pengendara kebanyakan terlena. Bukannya mengurangi kecepatan karena melihat kondisi jalan seperti itu, tapi malah mengebut.
Pada kondisi jalan yang rata, lanjut Jusri, bobot mobil kebanyakan ditahan di bagian belakang, ketika kondisi seperti ini, pengendara bisa mengemudikan kendaraannya dengan lebih stabil.
"Tapi ketika jalan menurun, bagian depan yang lebih banyak menahan bobot. Pada kondisi ini mobil lebih sulit dikendalikan, karena ban belakang yang biasanya menahan bobot jadi lebih bebas yang pada akhirnya rawan kehilangan traksi. Mobil pun jadi mudah limbung bila ada sedikit saja pergerakan ke kanan atau ke kiri," jelasnya.
"Selain itu, pada kondisi jalan menurun center gravity mobil juga akan berpindah, momen inersia akan makin membesar. Kalau pengemudi memahami dinamika jalan dan kendaraan ini maka seharusnya sebelum sampai atau awal turunan sudah sedikit melepas pedal gas bukan malah makin mengebut. Karena tidak memahami dinamika kendaraan yang ditungganginya sendiri dan karakter jalan yang dilalui, kebanyakan malah makin giat menginjak pedal gas," paparnya.
Banyaknya kecelakaan di jalur ini menurut Jusri memang terjadi karena ketidak-pahaman para pengguna mobil terkait dinamika yang terjadi di kendaraan mereka dan karakter jalan yang mereka lalui.
"Karena kebanyakan dari kita berpikir 'wah enak nih turunan' lalu makin menambah kecepatan. Padahal dengan dinamika kendaraan seperti tadi di jelaskan, sedikit saja mengerem maka mobil kemungkinan bisa understeer," tandasnya.
"Masalah Saiful Jamil kan sudah jadi berita nasional, tadi pagi juga ada. Seharusnya kecelakaan-kecelaan ini dilihat sebagai bahan belajar, bukan hanya melihat tokohnya saja yang kecelakaan," pungkas Jusri.
Seperti diketahui, empat hari lalu terjadi kecelakaan di KM 97 yang melibatkan artis Saipul Jamil. Sang istri Virginia Anggreini tewas dalam insiden maut tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari pemantauan detikOto, di KM 90 sampai KM 100 tol Cipularang dari arah Bandung menuju Jakarta memang jalan mengalami penurunan dan di beberapa ruas jalan kadang agak tidak rata (bumpy). Jadi agak berisiko jika melaluinya dengan kecepatan tinggi misalnya di atas 100 km per jam.
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Heboh Pajak Mobil-motor di Jateng Tiba-tiba Naik Drastis, Begini Penjelasannya
Bikin Pajak Mobil-motor di Jateng Mahal, Segini Tarif Opsen PKB
Penjualan Mobil di Indonesia Nyaris Disalip Malaysia, Menperin: Ini Alarm!