'Jakarta Itu Tidak Macet, Tapi Hanya Semrawut'

'Jakarta Itu Tidak Macet, Tapi Hanya Semrawut'

- detikOto
Rabu, 20 Jul 2011 09:23 WIB
Jakarta Itu Tidak Macet, Tapi Hanya Semrawut
Jakarta - Mekanisme pembatasan kendaraan di Jakarta dinilai bukan langkah yang tepat. Satu hal yang perlu diatasi agar jalanan tidak macet adalah perilaku pengendara yang tidak teratur dan disiplin.

Hal tersebut disampaikan Komisaris Indomobil Gunadi Sindhuwinata di Jakarta.

Gunadi menuturkan sebenarnya Jakarta itu tidak macet melainkan hanya 'tak teratur', disebabkan oleh para pengendara yang belum sadar untuk berkendara dengan baik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Percaya atau tidak Jakarta itu tidak macet, melainkan hanya semrawut karena tidak adanya yang mengatur dan kurang sadarnya pengendara," begitu tuturnya saat pembukaan diler VW di Pantai Indah Kapuk, Selasa (19/7/2011).

Gunadi pun menambahkan sebenarnya Jakarta itu hanya membutuhkan sebuah edukasi tentang berkendara yang baik dan benar untuk mencegah kemacetan.

"Apabila pengendara tersebut selalu ditegur di saat dirinya tidak disiplin, tapi bukan sanksi atau hukuman. Maka dengan sendirinya pengendara tersebut akan malu, sehingga mereka pun akan berkendara dengan lebih baik yang bisa membuat lancar kendaraan berjalan dijalanan," kata Gunadi.

Karena itulah Gunadi menuturkan penerapan Electronic Road Pricing (ERP) sebenarnya kurang tepat.

"Sekarang apa yang menjadi tujuan untuk menerapkan ERP, untuk mencegah kemacetan? Saya rasa ini keputusan yang kurang tepat, yang tepat itu pemerintah harus memperbaiki transportasi massal, memperbagus dan memperluas jalanan serta mengatur lalu lintas dengan baik, bukan dengan membatasi kendaraan untuk berjalan," ujar Gunadi.

"Dan apabila ERP ini diterapkan, berarti kalau orang perlu mereka tinggal bayar, terus mencegah kemacetannya dimana. Ditambah untuk membangun ERP itu membutuhkan dana, dari pada uangnya itu untuk membangun fasilitas ERP mending uangnya untuk membangun trasportasi massa," tambah Gunadi.

"Lalu apabila ERP ini terlaksana uangnya mau dikemanakan, jadi menurut saya keputusan ini kurang tepat," tutup Gunadi.

(ddn/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads