Dilarang Mengemudi, Aktivis Wanita Arab Saudi Minta Subaru Pergi

Dilarang Mengemudi, Aktivis Wanita Arab Saudi Minta Subaru Pergi

- detikOto
Senin, 27 Jun 2011 19:59 WIB
Dilarang Mengemudi, Aktivis Wanita Arab Saudi Minta Subaru Pergi
Riyadh - Niat wanita Arab Saudi untuk lepas dari aturan kerajaan yang melarang wanita mengemudi mobil sendiri tampaknya makin kuat. Kini para aktivis wanita di Arab mulai menekan pabrikan mobil untuk keluar dari negara itu.

Pabrikan pertama yang mendapat tekanan adalah Subaru. Pabrikan asal Jepang tersebut ditekan untuk pergi dan tidak lagi menjual mobilnya di Arab Saudi hingga larangan mengemudi bagi wanita di cabut.

Setelah pabrikan Jepang ini ditekan, kabarnya para aktivis ini juga akan menekan pabrikan Amerika Serikat, Cadillac dan pabrikan Korea Selatan, Hyundai untuk melakukan hal yang sama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seruan ini keluar satu minggu setelah Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengeluarkan pernyataan yang mendukung gerakan para aktivis wanita tersebut.

"Harapan kami, ini akan memberikan tekanan besar bagi kerajaan Saudi dan memberikan sinar terang pada apartheid jender' di negara kita," ungkap kelompok aktivis wanita ini di Autonews, Senin (27/6/2011).

"Ini adalah kesempatan bagi perusahaan untuk hidup sampai merek itu membuat perbedaan besar bagi hampir 13 juta wanita Saudi," cetus mereka lagi.

Subaru menjadi target pertama para aktivis Arab karena dianggap menjual beberapa mobil yang 'feminin.' Sementara Cadillac dan Hyundai selanjutnya akan menjadi target karena dua mobil dari dua merek inilah yang digunakan oleh Manal Al-Sharif, seorang wanita Saudi yang ditangkap bulan lalu karena mengemudi.

Menanggapi hal tersebut, Fuji Heavy yang merupakan prinsipal Subaru mengaku belum menerima tekanan tersebut. "Kami hanya memiliki dealer di Arab Saudi, dan tidak ada pabrik. Penjualan tahunan kami di negara tersebut dibatasi hanya untuk 300 sampai 400 unit," kata juru bicara perusahaan Kenta Matsumoto.

Hani al-Faqih, seorang manajer Subaru di Arab Saudi, mengatakan dari Riyadh bahwa ia tidak memiliki komentar segera ketika ditanya tentang kampanye. Begitu pula dengan Hyundai. Belum ada respon dari Hyundai.

Sementara juru bicara Cadillac, Hanspeter Ryser mengatakan bahwa dia tidak mengetahui adanya rencana untuk mengubah bisnis Cadillac di Arab Saudi karena larangan terhadap perempuan mengemudi.

"Saya tidak bisa membayangkan ada langkah yang direncanakan untuk keluar dari Arab Saudi," kata Ryser. "Ini merupakan pasar yang sangat kuat bagi kami. Cadillac sangat populer di dunia. Secara umum, kita sebagai perusahaan tidak terlibat dalam debat politik, isu-isu politik," tambahnya.

Protes para aktivis wanita terhadap larangan mengemudi memang makin gencar belakangan ini dan mereka juga sempat turun ke jalan. Apalagi setelah seorang aktivis perempuan bernama Manal Al-Sharif yang sudah berjuang agar perempuan Arab Saudi diberi hak untuk menyetir mobil ditahan selama sedikitnya 10 hari setelah dia menentang larangan tersebut.

Manal yang merupakan seorang ahli teknologi informasi berusia 32 tahun itu dituduh "melanggar ketertiban umum". Saat ini setiap perempuan di Saudi harus bergantung pada pengemudi laki-laki dan untuk mengakhiri ketergantungan mereka, para aktivis ini mulai melakukan kampanye baik di internet maupun mulai turun ke jalan.

Simpati pun mereka dapatkan. Para aktivis feminisme dari beberapa negara juga diketahui melakukan aksi demonstrasi untuk mendukung perjuangan wanita-wanita Arab. Bahkan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengeluarkan pernyataan yang mendukung gerakan para aktivis wanita tersebut.

Sementara, bila kita melongok ke belakang, para aktivis wanita Arab Saudi sebenarnya sudah pernah melakukan protes terhadap larangan mengemudi ini. Para aktivis wanita Arab diketahui pernah melakukan protes pada tanggal 6 November 1990 ketika tentara Amerika memasuki Arab untuk bersiap melancarkan perang ke Irak karena menyerang Kuwait.

Para aktivis ini mengatakan dengan kebebasan mengemudi, para wanita paling tidak akan bisa berbuat sesuatu bila keadaan darurat dan menghemat pengeluaran karena tidak perlu menyewa supir laki-laki.

Tapi para ulama Wahhabi yang tidak mengizinkan wanita mendapat SIM dan izin mengemudi bahkan walau hanya sebentar dan ditengah gurun mengatakan bahwa kebebasan mengemudi bagi wanita Arab akan meningkatkan kemungkinan pergaulan antara laki-laki dan perempuan tanpa diketahui pihak laki-laki si wanita.


(syu/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads