Raksasa otomotif listrik asal China, BYD mengalami penyusutan keuntungan (laba). BYD dikabarkan juga melakukan pemangkasan jumlah karyawan.
Dikutip dari Reuters, berdasarkan laporan keuangan BYD, laba bersih BYD merosot 19% menjadi 32,6 miliar yuan atau setara Rp 74,6 triliun (kurs Rp 2.290). Ini merupakan penurunan laba tahunan pertama BYD dalam empat tahun terakhir.
Masa kejayaan seri Dynasty dan Ocean milik BYD yang dulu laku keras mulai goyah. Penjualan BYD di China melempem karena digempur habis-habisan oleh kompetitor seperti Geely dan Leapmotor. Rival-rival ini makin canggih dan berhasil mengejar ketertinggalan teknologi dari BYD.
BYD sebagai penguasa pasar otomotif China di 2025 harus melorot ke peringkat empat pada periode Januari-Februari 2026. Penjualan mereka terjun bebas ke level terendah sejak zaman pandemi COVID-19.
Masih dalam sumber yang sama, BYD dilaporkan memangkas karyawan sebanyak 10 persen. Kini, jumlah karyawan yang tersisa berada di angka 869.622 orang.
Chairman BYD, Wang Chuanfu, mengakui kalau industri kendaraan energi baru (NEV) saat ini sudah masuk ke tahap eleminasi.
"Kami menyadari persaingan di industri ini sudah mencapai titik didih dan sedang menjalani 'eliminasi' yang brutal," kata Wang dikutip dari Reuters.
Selama ini, BYD mengandalkan mobil murah di bawah 150.000 yuan (sekitar Rp 340 jutaan) untuk mendominasi pasar. Faktanya, 61% penjualan mereka berasal dari segmen ini. Namun, kebijakan pemerintah China yang menghapus insentif pajak untuk mobil listrik murah bikin margin keuntungan BYD makin tipis.
Untuk merespons pasar yang makin ketat. BYD sudah merilis 11 model baru dengan teknologi pengisian daya kilat (flash charging).
"Fokus pada peningkatan teknologi akan membantu mendorong daya saing dibandingkan harga, sementara penjualan di luar negeri dan lokalisasi tetap menjadi fokus utama pertumbuhan tahun ini," ujar Eugene Hsiao, Analis dari Macquarie.
Simak Video "Video: Gas Pol! BYD Salip Tesla Jadi Kendaraan Listrik Terlaris di Dunia"
(riar/dry)