ADVERTISEMENT

90% Rem Blong Bus dan Truk Terjadi di Turunan, Kok Bisa?

Dina Rayanti - detikOto
Senin, 27 Jun 2022 16:16 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Cipularang, Minggu (26/6/2022).
90% rem blong pada bus dan truk terjadi di turunan. Kok bisa ya? (Foto: Dian Firmansyah/detikOto)
Jakarta -

Ada fakta menarik di balik kecelakaan akibat rem blong yang terjadi pada bus dan truk. Dari keseluruhan kecelakaan yang diakibatkan rem bus dan truk blong, 90% di antaranya terjadi di jalanan menurun.

Pada saat berada di jalan menurun, maka ada yang dinamakan energi potensial. Pada saat kendaraan akan meluncur, akan ada energi kinetik. Jadi di sini, semakin besar massanya (bobot kendaraan), makin tinggi kecepatannya, maka energi ini akan semakin besar. Ketika pengemudi berusaha menghentikan kendaraan yang meluncur dari atas, maka akan berlaku hukum termodinamika 1, tidak ada energi yg hilang hanya akan berubah bentuk, energi ini kemudian berubah jadi kalor.

Pada saat terjadi rem blong masalah bukan terjadi pada gaya pengereman tapi didisipasi panas, seberapa besar kemampuan kampas rem menanggung panas yang dihasilkan dari 2 energi tadi. Ketika kampas mampu menahan maka dia lolos, tapi ketika tidak mampu terjadi brake fading.

Plt Kepala Sub Komite Investigasi Lalu Lintas Angkutan Jalan Komisi KNKT Ahmad Wildan mengatakan pengemudi bus dan truk kebanyakan tidak memiliki pengetahuan yang baik soal sistem pengereman pada kendaraannya itu sendiri.

Dijelaskan Wildan, pada bus dan truk memiliki dua jenis sistem pengereman. Pertama adalah rem berbasis gesekan dan yang kedua rem berbasis non gesekan. Kebanyakan sopir bus dan truk mengetahu soal sistem rem berbasis gesekan. Rem berbasis gesekan ini kata Wildan lebih berisiko membuat blong.

Hal itu sudah sepatutnya dikuasai oleh para pengendara bus dan truk. Tapi pada kenyataannya di lapangan pengendara bus dan truk tidak tahu-menahu soal hal itu.

"Mungkin dapat saya sampaikan bahwa hampir tidak ada pengemudi yang paham prosedur ini, karena apa? Satu, saat ngambil sim B1 nggak ada materi ini. Kedua, pada saat SKKNI juga nggak ada materi ini, artinya nggak pernah sampai knowledge ini. Kalau ada pengemudi yang bisa saya kaget dari mana dia paham teori ini. Nah di sini kuncinya," ucap Wildan dalam sebuah Webinar Ditjen Perhubungan Darat belum lama ini.

Ia pun membandingkan insiden rem blong bus dan truk dengan pesawat. Menurutnya, dengan bobot lebih besar dan memiliki sistem pengereman yang hampir sama pesawat justru lebih berisiko mengalami rem blong. Namun kalau diperhatikan, kecelakaan pesawat akibat rem blong hampir nihil. Beda dengan kecelakaan rem blong pada bus dan truk yang terus berulang.

"Saat orang jadi pilot, materi saat landing benar-benar disampaikan, pilot pasti paham karena semua pesawat sama apapun mereknya cara ngeremnya sama. Kedua, Dirjen Perhubungan Udara memastikan pilot itu nggak lupa caranya dengan proficiency check setiap 6 bulan sekali. Jadi pilot akan menghadapi sebuah simulator selama 4 jam untuk berlatih critical eleven bagaimana naik, bagaimana turun, otomatis semua pilot hafal dengan prosedur ini," tutur Wildan.

Ia pun berharap ke depan, para pengendara bus dan truk memiliki pengetahuan serupa. Dengan begitu, kecelakaan akibat rem blong bisa diminimalisir kalaupun bisa dicegah sepenuhnya.

"Untuk mencegah yang 80% ini kita benchmarking dari udara bagaimana caranya mentransfer knowledge ini ke pengemudi bus dan truk, jangan gunakan rem berbasis gesekan karena apa risikonya rem blong. Gunakan rem yang tidak berbasis gesekan," kata Wildan.



Simak Video "Praktisi Ungkap Kebiasaan Sopir Bus-Truk: Niat Hemat, Berujung Tak Selamat"
[Gambas:Video 20detik]
(dry/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT