ADVERTISEMENT

Diduga Jadi Penyebab Tabrakan Beruntun di Cipularang, Kenapa Bus Sering Rem Blong?

Dina Rayanti - detikOto
Senin, 27 Jun 2022 12:49 WIB
Kecelakaan beruntun di Tol Cipularang sempat menyebabkan lalu lintas di jalan tol tersendat. Kecelakaan ini terjadi Minggu (26/6/2022) kemarin.
Bus rem blong diduga menjadi penyebab kecelakaan beruntun yang melibatkan 17 kendaraan di Tol Cipularang. Foto: Dian Firmansyah
Jakarta -

Kecelakaan beruntun yang melibatkan 17 kendaraan baru saja terjadi di Tol Cipularang km 92. Pihak kepolisian menduga kecelakaan ini diakibatkan oleh bus Laju Prima yang mengalami rem blong.

Alhasil, kendaraan yang berada di depannya menjadi korban. Kecelakaan yang diakibatkan bus rem blong bukan kali ini terjadi. Tentu hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa masih banyak ditemukan bus rem blong?

Plt Kepala Sub Komite Investigasi Lalu Lintas Angkutan Jalan Komisi KNKT Ahmad Wildan menjelaskan ada beberapa hal yang menyebabkan bus sering kali mengalami rem blong. Setidaknya 80% di antaranya disebabkan oleh brake fading alias kampas rem mengalami overheat.

"Kampas overheat ini bukan teknologi kendaraan bermotor ini adalah skill base error, error yang disebabkan unskill pengemudinya," jelas Wildan dikutip dalam Webinar yang ditayangkan dalam Youtube Ditjen Perhubungan Darat belum lama ini.

Kampas overheat itu kata Wildan disebabkan oleh pengendara yang kerap menggunakan gigi tinggi saat jalanan menurun. Alhasil, pengendara itu harus mengerem kendaraan untuk menghindari gaya sentrifugal.

"Kalau dia nggak ngerem pasti tertarik ke jurang. ketika dia bolak balik ngerem apa yang terjadi, dia terjadi brake fading kampasnya panas. Ketika kampasnya mengalami panas dan mengalami titik maksimal, permukaan kampas akan licin seperti kaca," beber Wildan.

Ketika kampas rem mengalami overheat, maka tidak mampu menahan pada putaran roda. Alhasil tekanan angin tekor karena umumnya pengendara akan mengocok rem ketika terjadi brake fading.

"Apa efeknya? Setiap kita ngerem satu kali injakan, kita buang 0,3 bar pada saat tekanan angin pada sistem rem mencapai 6 bar maka tekanan angin tidak akan mampu mendorong pedal rem sama pedal kopling. Di sana ada per, per itu hanya bisa ditekan dengan tekanan sebesar 7 bar, ketika 6 bar kekuatan kaki pengemudi nggak mampu mendorong pedal rem dan kopling, yang dirasakan pengemudi nggak bisa ngerem dan nginjek sama sekali, panik dia" kata Wildan.

Kemudian kesalahan selanjutnya adalah pengemudi memindahkan ke gigi yang lebih rendah namun gagal. Pada ujungnya, usaha tersebut berujung posisi gigi di netral karena pedal kopling tidak bisa diinjak dan syncromesh tidak mampu bekerja karena adanya perbedaan yang tinggi pada putaran mesin yang dipaksa masuk ke putaran rendah. Usaha untuk menarik hand brake pun akan sia-sia.

"Hand brake ditarik percuma, masalahnya bukan di pengereman tapi masalah di kampas yang sudah menjadi licin kaya kaca. inilah yang terjadi di semua kasus kecelakaan," pungkas Wildan.

Sedangkan 20% sisanya, kecelakaan bus dan truk akibat rem blong disebabkan oleh malfungsi beberapa komponen di dalam kendaraan.



Simak Video "Praktisi Ungkap Kebiasaan Sopir Bus-Truk: Niat Hemat, Berujung Tak Selamat"
[Gambas:Video 20detik]
(dry/rgr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT