Ranjau Paku Masih Bertebaran, Ban Serep Jangan Dihilangkan

Ranjau Paku Masih Bertebaran, Ban Serep Jangan Dihilangkan

- detikOto
Selasa, 21 Jun 2011 13:23 WIB
Ranjau Paku Masih Bertebaran, Ban Serep Jangan Dihilangkan
Jakarta - Komunitas mobil sepakat menolak jika pabrikan menghilangkan ban serep dalam mobil baru. Di Indonesia, ban serep masih diperlukan apalagi masih banyak ranjau paku dan lubang yang menganga di jalanan.

Seperti diketahui, pabrikan mobil di luar negeri mulai menghilangkan satu per satu aksesoris mobil untuk meningkatkan efisiensi BBBM mobil. Salah satunya dengan menghilangkan ban serep.

"Untuk saat ini saya belum sependapat, apabila hal ini bertujuan untuk mengurangi beban mobil dan BBM itu belum bisa. Kalau di Amerika sudah jelas, mereka memiliki 911. Responsnya sangat cepat, begitu pula dengan fasilitas mobil dereknya yang lebih cepat, dan bisa dikatakan Amerika lebih siap dengan tidak ada lubang dan ranjau paku di jalanan mereka," cetus Arief P. Swasana, Ketua AXIC (Avanza-Xenia Indonesia Club).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk sebuah mobil, lanjutnya kalau dilihat dari segi ekonomisnya sekarang sudah banyak mobil kecil dengan berkapasitas mesin kecil.

"Saya rasa kalau kita ambil angket mengenai ban serep dihilangkan pasti banyak yang tidak setuju. Jadi jangan mengorbankan ban serep, karena masih banyak cara yang lebih baik untuk mengurangi bobot kendaraan dan bahan bakar. Kalau seperti di Amerika itu masih jauh," ujar Arief.

"Terus terang aku baru dengar kalau seperti itu, sebenarnya langkah-langkah untuk mengurangi bobot kendaraan dan mengurangi bahan bakar sudah digalangkan. Contohnya pada ban cadangan didalam kendaraan itu berukuran lebih kecil," tambah Ketua Timor-er Ian Ananta.

"Namun kalau ban cadangan ini dihilangkan kita belum bisa, karena ban itu hanya digunakan di saat keadaan darurat saja. Dan apabila ban tersebut dihilangkan maka ini akan menghabiskan waktu yang banyak disaat keadaan darurat, karena kita harus menunggu bala bantuan datang," kata Ian.

Hal senada pun disampaikan rekan dari Ketua Toyota Yaris Club Indonesia Dwi Setiawahyudi.

"Begini kalau saya sih melihatnya sih simple saja, kalau di luar ditiadakan pasti ada suatu kompensasi, apabila bannya kempes dia masih bisa berjalan, dan saya juga pernah baca ada satu alat yang bisa mengisi sendiri ban kendaraannya apabila kempes di jalan," ujar Jagoan Neon.

"Tapi kalau di Indonesia ditiadakan saya kurang setuju, walaupun ban serep jarang kita gunakan, pasti suatu saat para pengemudi pernah mengalami ban bocor atau ban pecah. Dan menurut saya 90 persen pengendara pasti pernah merasakan keuntungan dari ban serep. Terlebih lagi 60-70 persen infrastruktur jalanan di Indonesia rusak," ungkap Dwi.

(lth/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads