"Soal kemacetan, ini masalah kronis, terutama di Jakarta. Saat saya ingin menuju kantor, semua jalanan yang menuju ke kantor semuanya daerah macet yaitu daerah Kalibata dan Mampang. Oleh sebab itu saya harus mencari jalan tikus untuk bisa lebih cepat sampai kantor," ujarnya kepada detikoto.
Oleh sebab itu, lanjut Assegaf, kita harus menggunakan kendaraan yang bisa masuk jalan tikus, otomatis kendaraan yang berukuran kecil lah yang lebih baik digunakan di Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang menjadi penyebab kemacetan, yang klasik adalah tidak seimbangnya produksi kendaraan dengan fasilitas jalanan yang ada di ibu kota," ujarnya.
Assegaf juga mengatakan ini sebuah dilema yang dialami oleh bangsa Indonesia saat ini.
"Satu sisi dunia otomotif memang menambah baik perekonomian kita. Tetapi satu sisi Jakarta menjadi sesak karena terlalu banyak kendaraan yang melintasi kendaraan," ujarnya.
Di mata Assegaf, bus TransJakarta juga merupakan kebijakan yang kurang tepat dan malah menambah semrawut. "Dan ini perlu dievaluasi kembali," katanya.
Assegaf juga kembali menegaskan, kebijakan pembuatan fly over atau underpass juga bukan langkah yang baik untuk mengatasi kemacetan. Terus apa dong Pak?
"Sebenarnya menurut saya pembuatan monorel saat ini paling tepat untuk mengatasi kemacetan. Memang ini membutuhkan uang yang lebih banyak, tetapi untuk jangka panjang ini lebih baik," ujarnya.
Lelaki yang memiliki empat anak ini juga mengatakan dirinya siap untuk menggunakan fasilitas umum apabila fasilitas tersebut sudah baik, terjaga
keamanannya dan yang paling penting fasilitas itu harus nyaman.
"Coba kita lihat negara-negara maju seperti di Jepang atau Prancis. Mereka itu memiliki fasilitas umum yang sangat baik, baik dilihat dari segi kendaraan
umumnya atau jalur-jalur yang telah tersedia. Contoh seperti ini, banyak yang bekerja di Jakarta dan mereka tinggal di Bogor. Coba lihat di pagi hari mereka berdesak-desakkan di dalam kereta, sangat kasihan. Bila seandainya tiba-tiba mereka memiliki perekonomian yang baik, pasti mereka memilih membeli mobil karena lebih nyaman," paparnya.
Nah seharusnya fasilitas-fasilitas umum yang lebih ditingkatkan, untuk menghindari hal tersebut. "Sehingga kemacetan pun dapat terselesaikan," tutupnya sambil tersenyum.
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Awas Kaget! Segini Pajak BYD Atto 1 Bila Tak Lagi Dapat Insentif
Naik Gila-gilaan! Intip Perbandingan Harga BBM RON 98 di RI Vs Negara ASEAN
Diduga Mirip Produk China Rp 8 Juta, Kok Bisa Motor MBG Tembus Rp 40 Juta?