Sejak Yamaha memproduksi motor Mio, saya sudah mencarinya. Karena budget saya belum cukup pada waktu itu, jadi saya menunda untuk membeli Yamaha Mio. Dan di tahun 2008 ini baru saya baru memilikinya. Lumayan dari hasil keringat saya.
Pengalaman menarik dan mengesankan memiliki motor Yamaha Mio saya alami pada saat saya pergi ke puncak tepatnya di Bukit Ciburial bersama teman-teman pada bulan Oktober 2008.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awalnya saya sangat ragu, secara Mio hanya motor matic berbodi kecil dan berkapasitas mesin 110 cc, mana mungkin ini bisa terlewati. Tetapi keraguan itu saya kalahkan dengan penuh semangat untuk melewati semua rintangan itu. Dan akhirnya dengan penuh percaya diri saya mulai menanjaki jalanan yang terjal dengan kondisi jalan yang berbatu. Alhasil saya berhasil membawa Mio melewati jalan berbatu nan terjal itu.
Ternyata rintangan belum berakhir, di depan sana ada sungai dengan arus yang deras. Bukan hanya satu tapi dua arus deras yang harus saya lewati. Dengan langkah yang mantap saya beranikan diri untuk melewati arus sungai tersebut karena tidak ingin kalah dengan teman seperjalanan. Dengan penuh kehati-hatian saya melewati rintangan itu, berbagai macam godaan mengganggu fikiran saya pada saat melewati arus sungai yang deras itu. Alhasil saya berhasil melewati 2 arus sungai yang sangat deras.
Karena keberhasilan saya pada waktu itu, kini saya semakin cinta dengan motor yamah mio kepunyaan saya. Selain mesinnya bandel motor ini juga sangat irit. Bayangkan pulang pergi Jakarta β Puncak, saya hanya menghabiskan uang sebesar Rp 30 ribu saja. Mioβ¦ i love you so much. (tbs/tbs)












































Komentar Terbanyak
BBM Shell Kosong, Bahlil: Negara Nggak Cuma Ngurus 1 Kelompok!
Viral Istri Ketinggalan di Rest Area saat Mudik, Diantar Polisi Naik Moge
Sindir Mobil Gubernur Rp 8 M, Prabowo: Mobil Presiden Saja Rp 700 Juta