Jurus Pengelola Tol Cipali Tekan Angka Fatalitas Kecelakaan

ADVERTISEMENT

Jurus Pengelola Tol Cipali Tekan Angka Fatalitas Kecelakaan

Dina Rayanti - detikOto
Senin, 05 Des 2022 19:09 WIB
Tol cipali / ASTRA Tol Cipali
Ruas tol Cipali. Foto: Pool (ASTRA Tol Cipali)
Jakarta -

Kecelakaan masih terjadi di Tol Cipali. Padahal secara kontur, ketebalan, dan faktor lainnya, ruas jalan tol Cipali terbilang sangat ideal. Tapi idealnya jalanan di Tol Cipali sering kali membuat pengendara justru terlena dan memacu kecepatan hingga 150 km/jam.

Di sisi lain, tol Cipali juga masih dilintasi oleh truk ODOL (Over Dimension Over Loading) dengan kecepatan yang terbatas. Hal itu memunculkan selisih kecepatan antara kendaraan satu dan lainnya terlampau tinggi.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap truk ODOL hanya berlari dengan kecepatan 40 km/jam, sehingga selisihnya lebih dari 100 km/jam atau melebihi rekomendasi gap kecepatan.

Adapun rekomendasi IRAP (International Road Assessment Program), gap kecepatan hanya 30 km/jam. Di luar itu maka risiko tabrak depan belakang meningkat. Tol Cipali juga berada di titik lelah pengemudi dan bisa berdampak pada timbulnya microsleep.

"Konsekuensi atas tingginya gap kecepatan ini adalah menurunnya waktu reaksi manusia, di mana pada perancangan jalan nasional dan internasional berasumsi pada waktu reaksi manusia normal 2,5 detik, namun dengan tingginya gap ini waktu reaksi manusia merosot hingga di bawah 1 detik sehingga pada akhirnya risiko tabrak depan belakang meningkat," terang Senior Investigator KNKT Ahmad Wildan kepada detikOto.

Kendati demikian, pengelola tol juga telah melakukan sejumlah upaya untuk mengurangi angka kecelakaan di ruas tol yang menghubungkan Cikopo-Palimanan tersebut.

Mengutip laman resmi Astra Tol Cipali, untuk meningkatkan keselamatan jalan terdapat pemasangan wire rope atau sling baja di KM 106, kemudian ada pemasangan alat timbang Weight in Motion (WIM) yang dipasang di Palimanan. Ada juga marka speed reducer di sepanjang tol Cipali, pemasangan lampu strobe di 9 titik area blindspot, pemasangan 10 lampu flip flop, pemasangan 40 titik lampu selang, serta 166 CCTV yang tersebar di setiap km.

Deretan fasilitas perangkat keselamatan jalan itu juga sesuai dengan rekomendasi KNKT. Namun pemasangan perisai belakang atau Rear Underrun Protection (RUP) di kendaraan besar seperti truk untuk mengurangi fatalitas akibat kecelakaan tabrak belakang harus lebih dioptimalkan.

"Dari pengelola tol sudah memasang chevron reducing marking, sudah memperbaiki rest area, hanya saja memang kapasitasnya perlu ditambah, sementara untuk ETLE masih dalam tahap pengembangan," pungkas Wildan.

Simak Video 'Jalan Tol dengan Fatalitas Kecelakaan Tertinggi di Dunia Ada di Indonesia':

[Gambas:Video 20detik]



(dry/rgr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT