Jakarta -
Menteri BUMN Dahlan Iskan menulis pengalamannya mengendarai mobil listrik Ahmadi. Mobil ini sempat terkendala saat dikendarai Dahlan Iskan. Apa penyebabnya?
Yuk kita simak tulisan lengkap Dahlan Iskan di blog resminya:
Selasa sore besok saya akan coba lagi mobil listrik Ahmadi. Saya berbuat kesalahan tadi pagi, terlalu main-main dengan βpedal gasβ yang membuat boros pemakaian listriknya sehingga saat tiba di jalan Thamrin Jakarta listriknya habis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya tahu saat berangkat dari Depok tadi pagi listriknya memang tidak sampai separo. Tapi saya pikir cukup untuk perjalanan 50 km dari Depok ke BPPT di jalan thamrin. Ternyata kurang 1 km lagi mobil kehilangan daya. Sy tidak mengira listriknya habis karena indikatornya msh menunjukkan belum habis. Ternyata indikatornya kurang bekerja normal.
Sebetulnya saya sudah curiga ketika sudah menempuh jarak 30 km. Yakni ketika tiba di Pancoran. Kok indikatornya menunjukkan listrik tidak berkurang. Ternyata indikatornya belum bekerja dengan baik. Karena itu saya minta Dasep ahmadi untuk menyempurnakan itu. Ini bukan kekurangan yang berat. Besok sore sdh bisa saya coba lagi. Sekalian menyempurnakan sistem rem dan AC-nya.
Saya memang bersalah karena waktu mencoba tadi pagi sering menghentak-hentakkan gas. Maksud saya untuk menguji daya tariknya semaksimal mungkin. Tapi cara seperti itu ternyata membuat pemakaian listrik sangat boros. Besok Selasa sore kesalahan itu tidak akan saya ulangi. Tiap hari saya akan terus mencobanya untuk jarak sejauh mungkin. Sampai mobil ini benar-benar sempurna. Tidak boleh mundur dan tidak boleh gagal. Harus bisa.
Waktu berangkat dari Depok sebenarnya semuanya lancar. Daya powernya cukup. Setirnya juga nyaman. Waktu melewati Lenteng Agung saya memacunya sampai kecepatan 70 km/jam lebih. Saya tidak punya kesempatan memacunya lebih dari itu karena jalan raya menuju Jakarta pada jam-jam 9 pagi ruwetnya bukan main. Bahkan ketika memasuki Pasar Minggu mulailah kemacetan. Lebih macet lagi ketika berada di sepanjang jalan Pasar Minggu Raya sampai Pancoran. Tapi semua itu tidak ada masalah. Memasuki Jembatan Semanggi juga sangat lancar.
Teman-teman wartawan yang berada di dua mobil yang mengikuti mobnal listrik juga terus menyorot dengan kamera mereka.
Kecurigaan muncul saat menjelang bundara Hotel Indonesia. Tinggal satu kilometer lagi menjelang BPPT. Di Bundaran HI mobil melambat. Ahmadi yang berada di sebelah saya juga tidak tahu apa penyebabnya. Mestinya tidak akan terjadi. Tapi sama sekali tidak ada kecurigaan akan habisnya listrik. Indikator masih hijau, bahkan relatif masih tidak berkurang. Kami terlalu percaya pada indikator itu.
Setelah bundaran HI mobil saya minggirkan. Bukan mogok. Saya ingin ada pemeriksaan. Hasilnya: tidak ada yang salah. Mobil saya jalankan lagi tapi amat pelan. Akhirnya tepat di pintu masuk BPPT mobil tidak bisa jalan lagi. Listriknya benar-benar habis! Rencananya saya berhenti di BPPT untuk mengikuti pertemuan dengan Dewan Riset Nasional. Tapi apa boleh buat. Dari pintu depan saya jalan kaki ke ruang pertemuan.
Coba saja saya tidak buru-buru ke Halim (untuk mengikuti Bapak Presiden SBY ke Solo) saya akan coba lagi malam ini (Senin malam) setelah listrik diisi lagi penuh. Tapi karena malam ini saya di Solo, baru Selasa sore besok saya punya waktu mencoba lagi.
Kesimpulan saya: mobil ini menjadi masa depan kita!
(ddn/ddn)
Komentar Terbanyak
Pertalite Mau Dibatasi, Bahlil: yang Kaya Jangan Ambil Hak Rakyat
Viral Ribut-ribut Perkara Parkir: Istri Turun buat Nge-tag Tempat, Emang Boleh?
Trik Tutupi Pelat Nomor Demi Hindari ETLE Nggak Bakal Mempan