Bukan Mobil Listrik Mahal, Ini Mobil yang Perlu Dapat Perhatian

Bukan Mobil Listrik Mahal, Ini Mobil yang Perlu Dapat Perhatian

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Rabu, 28 Okt 2026 11:04 WIB
Suasana GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Kamis (30/7/2026).
Ilustrasi penjualan mobil. Foto: Gilang Faturahman/detikFoto
Jakarta -

Mobil yang paling laris di Indonesia adalah mobil dengan harga di bawah Rp 300 juta. Mobil dengan harga yang lebih terjangkau itu diharapkan mendapat perhatian lebih dari pemerintah ketimbang mobil listrik yang harganya tinggi.

Menurut Ketua Pengembangan Pasar Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto, mobil-mobil dengan harga di bawah Rp 300 juta menyumbang pangsa pasar paling besar di Indonesia. Itu juga termasuk mobil low cost green car (LCGC) yang harganya Rp 100-200 jutaan.

"(Mobil seharga Rp 300 juta ke bawah) Ini yang paling besar. Itu bahkan mencapai 60 persen dari total penjualan di Indonesia. Jadi kalau kita jual 800.000 (unit mobil per tahun), itu 500.000 (unit) itu mobil-mobil ini. Jadi ini segmennya di bawah ini yang paling besar," kata Jongkie dalam program AutoBizz yang ditayangkan di CNBC Indonesia baru-baru ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Makanya, agar industri otomotif tumbuh, Jongkie menyarankan mobil-mobil dengan harga di bawah Rp 300 juta itulah yang mendapat perhatian dari pemerintah. Salah satunya adalah insentif fiskal dan nonfiskal.

ADVERTISEMENT

"Nah, kita mau menyasar ke mana? Yang mau diberikan kan justru harus yang ini (segmen di bawah Rp 300 juta) supaya makin besar. Yang di sini (segmen atas) sih jangan dipusingin, ini mah cuma sedikit, segmennya kecil gitu. Tapi yang ini yang di bawah ini yang Rp 300-400 juta ini yang harus kita betul-betul katakanlah konsentrasi mau dibesarkan. Karena kembali lagi daya beli masyarakat Indonesia yang masih berada di kisaran angka-angka ini," ujar Jongkie.

"Tinggal nanti kita exercise, bagaimana, apa, diturunkan berapa, lalu dibedakan (insentif) BEV (mobil listrik) dapat begini, (insentif) hybrid dapat begini. Supaya ini jalan semua. Jadi nggak pincang, jalan semua, kepentingan kita terakomodir semua. Dan jangan lupa pemerintahnya juga mendapat pendapatan yang meningkat. Itu tujuannya," sebut Jongkie.

Menteri Perindustrian Sarmuji sebelumnya mengungkapkan usulan untuk memberikan insentif mobil hybrid, plug-in hybrid (PHEV) dan range-extended electric vehicle (REEV). Insentifnya bisa berupa fiskal maupun non-fiskal. Besarannya tak mesti sama dengan insentif mobil listrik.

Jongkie mengatakan, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Menteri Perindustrian Sarmuji. Dalam pertemuan itu, dibahas soal insentif untuk kendaraan hybrid.

"Jadi pada pertemuan kami Gaikindo dengan Pak Menteri Perindustrian yang baru, Pak Sarmuji, kami juga membahas hal ini. Intinya adalah apakah kendaraan hybrid, plug-in hybrid, maupun REEV, range extender electric vehicle, perlu atau tidak mendapat insentif juga?" kata Jongkie.



(rgr/dry)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads