Kendaraan listrik sudah beroperasi di sektor pertambangan. Rupanya penggunaan kendaraan listrik di dunia tambang punya tantangan tersendiri.
Kendaraan listrik rupanya tak hanya digunakan di sektor logistik. Sejumlah unit kendaraan listrik diketahui sudah digunakan dalam operasional pertambangan di Indonesia. Kendati demikian, penggunaan kendaraan listrik di dunia tambang itu tak lepas dari sejumlah tantangan, seperti kesiapan pasokan listrik, infrastruktur pengisian daya, hingga penyesuaian kendaraan dengan kondisi pertambangan.
Baca juga: Penyebab Mobil Listrik Bisa Terbakar |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Praktisi operasi tambang, Agung Budi Prasetya, di sela-sela diskusi 'Renewable Energy on Machine Application' yang digelar PT Indotruck Utama bersama Pertaabi, mengatakan sebelum menggunakan kendaraan listrik di dunia tambang, sebaiknya ada uji coba terlebih dahulu yang dilakukan.
"Uji coba sebaiknya dilakukan untuk mendapatkan bukti bahwa unit bertenaga listrik dapat memenuhi kebutuhan operasi. Yang dievaluasi mencakup aspek keselamatan, produktivitas, konsumsi energi, pola pengisian, emisi, availability, sampai downtime," ujar Agung dalam siaran pers yang diterima detikOto.
Agung menambahkan penggunaan kendaraan bertenaga listrik juga harus didukung ekosistem yang mumpuni. Pasokan dan sistem kelistrikan harus mampu menunjang operasi, sementara durasi pengisian baterai perlu diperhitungkan terhadap waktu kerja. Kompetensi pengemudi dan teknisi juga perlu disesuaikan, termasuk kesiapan suku cadang.
Unit kendaraan elektrik berkapasitas besar lebih membutuhkan kesiapan infrastruktur sebagai dasar operasional, sedangkan kendaraan ringan dinilai berdasarkan tingkat pemanfaatannya. Ahli dari Pertaabi (Perkumpulan Tenaga Ahli Berat Indonesia), Sahala Sigalingging, mengatakan saat ini beberapa unit truk listrik sudah digunakan di dunia pertambangan.
Di lokasi pertambangan kawasan Kalimantan Timur misalnya, ada 18 truk angkut bertenaga listrik yang sudah beroperasi. Sebagian unit sudah beroperasi selama delapan bulan, sementara unit pertama mendekati satu tahun.
"Secara operasional, unit elektrik sudah bisa digunakan. Tantangan berikutnya adalah memastikan ekosistem komersial dan operasionalnya siap ketika penggunaannya diperluas," ujar Sahala.
Sahala lebih lanjut menegaskan, pemilihan kendaraan untuk unit pertambangan itu harus memenuhi prinsip fit for application. Prinsip ini menuntut kapasitas dan dimensi kendaraan disesuaikan dengan kondisi area kerja serta jalur angkut. Itulah sebabnya penyesuaian unit dapat membutuhkan waktu hingga beberapa tahun agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan tambang.
Tak cuma itu, biaya kepemilikan juga harus jadi pertimbangan. Perhitungan biaya kepemilikan itu juga mencakup aspek infrastruktur pengisian, pemeliharaan, produktivitas, serta nilai sisa kendaraan. Praktisi kendaraan niaga dan logistik bertenaga listrik, Richo Billy Wulur, juga menyebut tantangan lain dalam penggunaan kendaraan listrik di dunia tambang yaitu ketahanan baterai dan layanan purnajual. Bagi para produsen, hal ini bisa dijawab dengan memberikan garansi baterai hingga delapan tahun atau skema penggantian bila kapasitasnya turun di bawah 75 persen.










































