Ini BBM Baru yang Meluncur 1 Juli

Ini BBM Baru yang Meluncur 1 Juli

Dina Rayanti - detikOto
Rabu, 17 Jun 2026 12:13 WIB
Petugas mengalirkan bahan bakar biodiesel 50 persen (B50) ke dalam drum penyimpanan di Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (7/6/2026). Pemerintah menargetkan kebijakan penggun
B50. Foto: ANTARA FOTO/Abdan Syakura
Jakarta -

BBM baru bakal meluncur 1 Juli. BBM baru itu merupakan campuran dari sawit dan juga solar.

Akan ada bahan bakar jenis baru yang mulai diimplementasikan pada 1 Juli. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut, BBM tersebut sudah menjalani uji coba. Baham bakar baru itu merupakan campuran dari solar dan kelapa sawit. Masing-masing porsinya 50 persen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"B50 sesuai dengan jadwal akan diimplementasikan pada 1 Juli 2026. Mungkin satu minggu lagi saya akan melakukan rapat dengan tim uji coba. Sekarang kan kita masih terus melakukan uji coba," ungkap Bahlil dikutip detikFinance.

Bahlil menyebut hasil uji coba BBM baru itu menunjukkan perkembangan yang positif. Kata Bahlil, dari sisi kadar air, kualitas B50 disebut lebih baik dibandingkan biodiesel B40 yang saat ini masih digunakan.

ADVERTISEMENT

"Sekitar 80-90% hasil uji coba, alhamdulillah baik. Bahkan kadar airnya dibandingkan dengan B40 itu lebih baik di B50. Namun, hasil akhirnya akan kami sampaikan setelah rapat evaluasi final," kata dia.

Sebagai informasi tambahan, B50 merupakan bahan bakar dengan campuran 50 persen bahan bakar nabati (BBN) dari minyak sawit dan 50 persen bahan bakar fosil jenis Solar. Rangkaian pengujian teknis bahan bakar dikerjakan di laboratorium sejak awal tahun lalu.

Sementara pengujian di kondisi riil atau road test sudah dilakukan sejak 9 Desember 2025 di berbagai sektor. Mulai dari otomotif untuk kendaraan bermotor, pertambangan, alat pertanian, perkapalan, genset, hingga sektor perkeretapian. Program B50 merupakan hasil pengembangan panjang pemerintah selama 15 tahun lebih. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang memanfaatkan bahan bakar dengan komposisi campuran nabati setinggi ini.

"Ini semua dipakai, semua sektor dipakai. Jadi, ini kita bersama-sama pantau karena memang ini adalah satu kegiatan yang tidak ada contohnya," tutur Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi beberapa waktu lalu.




(dry/rgr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads