Tak Punya Nikel, Industri Kendaraan Listrik Thailand Bakal Kalah dari RI

ADVERTISEMENT

Tak Punya Nikel, Industri Kendaraan Listrik Thailand Bakal Kalah dari RI

Luthfi Anshori - detikOto
Senin, 05 Des 2022 20:14 WIB
BMW Group Thailand Siap Produksi Baterai Mobil Listrik
Industri kendaraan ramah lingkungan Thailand bakal kalaih bersaing dengan Indonesia karena tidak memiliki nikel sebagai bahan baku utama baterai. Foto: Dok. BMW
Jakarta -

Industri otomotif Thailand diprediksi gagal memenuhi target produksi 50% kendaraan listrik pada tahun 2030. Selain rendahnya minat konsumen Thailand akan mobil listrik, Thailand juga dihadapkan pada kesulitan mengatur harga mobil listrik karena mereka tidak mempunyai sumber daya alam nikel seperti Indonesia.

Perlu diketahui, nikel merupakan bahan baku utama baterai mobil listrik. Baterai mobil listrik harganya sangat mahal, bahkan nilainya bisa mencapai 40-50% dari total harga kendaraan listrik itu sendiri. Jadi sangat beruntung negara yang memiliki tambang nikel, karena bisa memproduksi baterai sendiri, sehingga bisa menekan harga mobil listrik supaya bisa bersaing dengan harga mobil konvensional.

Indonesia sendiri adalah salah satu negara yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Mengacu data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2020, Indonesia memiliki cadangan nikel 72 ton, atau 52% dari total cadangan nikel dunia.

Beberapa pabrik pembuat baterai kendaraan listrik pun sedang dibangun di Indonesia, seperti pabrik baterai di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah yang dibuat oleh China, dan juga di Kawasan Industri Deltamas, Cikarang, Bekasi, yang dibangun oleh perusahaan LG dan Hyundai asal Korea Selatan.

Nah, Thailand yang tidak memiliki sumber daya nikel diprediksi bakal kesulitan mengembangkan ekosistem kendaraan listrik. Seperti dikutip dari Bangkok Post, Thailand tak akan bisa memenuhi target produksi kendaraan listrik lokal sebanyak 50% pada tahun 2030.

Menurut Senior Engagement Manager of Arthur D. Little Southeast Asia, Akshey Prasad, kemungkinan besar industri otomotif Thailand hanya akan bisa memproduksi sekitar 7% kendaraan listrik dari total kendaraan yang diproduksi pada tahun 2030 nanti.

"Kami membuat prediksi yang realistis berdasarkan penelitian kami dan juga faktor-faktor yang digunakan dalam perhitungan," kata Prasad.

Dijelaskan Prasad, harga energi listrik dan biaya pengisian ulang baterai di Thailand akan sangat mahal. Di sisi lain, Thailand tidak memiliki Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum yang cukup.

Selain itu, Prasad juga membandingkan keadaan Thailand yang tidak memiliki tambang nikel seperti Indonesia. Prasad menilai nikel merupakan kunci utama dalam produksi kendaraan listrik.

"Berbeda dengan Indonesia yang memiliki nikel melimpah sebagai elemen kunci dalam pembuatan baterai kendaraan listrik, Thailand tak memiliki bahan baku tersebut untuk menarik investor asing," ujarnya.

Thailand sendiri hanya memiliki sumber daya alam zinc atau seng yang juga bisa digunakan untuk membuat baterai. Tapi perlu teknologi tinggi untuk membuat baterai dengan bahan baku itu.

"Thailand bisa bermitra dengan China, Jepang atau Australia untuk memakai seng sebagai bahan baku membuat baterai. Ini akan meningkatkan daya saing negara tersebut," jelas Prasad.



Simak Video "Industri Kendaraan Listrik Indonesia Bisa Taklukkan Thailand!"
[Gambas:Video 20detik]
(lua/rgr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT