Ini Penyebab Rem Blong pada Kecelakaan Maut Bus Wisata di Bantul

ADVERTISEMENT

Ini Penyebab Rem Blong pada Kecelakaan Maut Bus Wisata di Bantul

Luthfi Anshori - detikOto
Rabu, 30 Nov 2022 19:16 WIB
Bus wisata mengalami kecelakaan tunggal di Pedukuhan Kedungbuweng, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Minggu (6/2/2022
Kecelakaan bus wisata PO Gandos Abadi di Bantul Februari 2022 disebabkan rem blong. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng
Jakarta -

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis hasil investigasi kecelakaan bus wisata PO Gandos Abadi di Jalan Bukit Bego, Bantul, Yogyakarta, 6 Februari 2022. KNKT mengatakan kecelakaan bus disebabkan kesalahan prosedur mengemudi, sehingga mengakibatkan rem blong.

Dalam pemaparannya, Plt Kepala Sub Komite Investigasi Kecelakaan LLAJ KNKT, Ahmad Wildan, mengatakan, kecelakaan PO Gandos Abadi diawali dari sopir bus yang pakai transmisi dengan gigi tinggi. Penggunaan gigi tinggi membuat bus kesulitan menggunakan engine brake atau rem dengan bantuan mesin.

"Pada saat melalui turunan, pengemudi menggunakan gigi tinggi, gigi 3. Bisa dibayangkan gaya dorongnya (dari atas). Semakin besar massa-nya, semakin tinggi tempatnya, maka gaya dorongnya semakin besar," ujar Wildan dalam Forum Kehumasan dan Media Rilis 'Keselamatan Bus Pariwisata di Indonesia (Studi Kasus Kecelakaan Bus Wisata di Tebing Bego, Bantul), Rabu (30/11/2022).

Wildan menjelaskan pentingnya fungsi engine brake pada jalanan menurun. Pada saat di jalanan menurun, mesin akan berubah fungsinya. Kalau di jalan datar, mesin memiliki tugas untuk mendorong bus, maka di jalan menurun, mesin berfungsi untuk menahan laju bus.

"Nah, besarnya kemampuan menahan itu bergantung pada posisi gigi. Ketika di posisi gigi 1, maka nahannya akan kencang sekali. Masuk 2 mulai longgar, lalu masuk 3 longgar banget (penahanannya). Jadi kalau menggunakan gigi tinggi di jalan menurun, gaya dorongnya akan terasa sekali," sambung Wildan.

"Ini menyebabkan dia (pengemudi) kemudian dipaksa untuk ngerem panjang. Mengerem di jalan mendatar dan mengerem di jalan menurun adalah dua hal berbeda. Di jalan datar, begitu direm, sumber tenaga pendorongnya melemah. Di jalan menurun kita mengerem, terus kendaraan melambat, terus rem kita angkat banter (kencang) lagi, seperti panah yang dilepas. Karena apa? Karena kita tidak menghilangkan sumber tenaga pendorongnya, ditambah ada gaya gravitasi. Jadi semua pengemudi yang mengerem di jalan menurun pasti akan melakukan pengereman panjang," katanya lagi.

Lanjut Wildan menambahkan, dari hasil investigasi, bus PO Gandos Abadi yang mengalami kecelakaan tersebut mengalami rem blong. Hal itu terlihat dari titik pengereman yang semakin lama jejaknya semakin tipis.

Plt Kepala Sub Komite Investigasi Kecelakaan LLAJ KNKT Ahmad WildanPlt Kepala Sub Komite Investigasi Kecelakaan LLAJ KNKT Ahmad Wildan Foto: Screenshoot Zoom

"(Terkait bus wisata yang kecelakaan tersebut) ini relevan dengan keterangan saksi yang melihat lampu rem bus ini menyala terus dari atas. Karena pakai gigi 3 dan mengerem berulang-ulang, kemudian bus ini menggunakan sistem full air brake, jadi nggak ada minyak remnya. Dia mengandalkan tenaga pneumatik (udara) untuk mendorong. Tenaga ini dikumpulkan dalam tabung angin. Tabung angin disedot oleh kompresor, dimasukkan, ketika dimampatkan tekanannya sampai 10 bar. Lalu bisa mendorong aktuator, kampas mendorong tromol, kemudian terjadi pengereman. Cara kerjanya, kalau bus digas, kompresor bekerja mengumpulkan angin di dalam tabung. Tapi kalau posisi ngerem, maka anginnya terbuang. Pengemudi ini nggak sempat ngisi karena dia nggak mungkin ngegas (di jalanan menurun kan). Maka dia ngerem terus, akhirnya dia membuang (angin) terus tanpa pernah ngisi. Karena dibuang terus, tekanan angin di dalam tabung angin menurun, dari 10, 9, 8, 7, 6. Begitu masuk 5, maka akan terdengar alert (tanda bahaya) dari bus itu, ngekkk...bunyi. Itu tandanya tenaga pneumatik nggak akan mampu mendorong kampas menyentuh tromol alias ngeblong, jadi akhirnya ngeblong," jelas Wildan.

"Inilah yang terjadi di bus (PO Gandos Abadi) ini. Pengemudi ngerem panjang berkali-kali. Jadi ini bukan malfunction kendaraan ya, ini adalah kesalahan prosedur mengemudi. Dia harusnya menggunakan gigi rendah, tapi dia menggunakan gigi tinggi. Kalau (saja) dia menggunakan gigi rendah, maka yang akan mengerem adalah mesin (engine brake)," katanya lagi.

"Kita juga melihat jejak pengereman yang terputus-putus dan semakin tipis. Ini signifikan. Artinya terjadi penurunan tenaga pneumatik. Pada saat (bar) 6 dia masih bisa ngerem. Begitu kosong, nggak dapat (ngerem). Jadi bus itu terdorong mengikuti gravitasi bumi," bilang Wildan.

Berikut kronologi kejadian kecelakaan PO Gandos Abadi di Bantul berdasarkan hasil investigasi KNKT:

1. Hari Minggu tanggal 6 Februari 2022 pukul 06.30 WIB, mobil bus AD 1507 EH (selanjutnya disebut bus wisata) berangkat dari Bekonang, Sukoharjo untuk wisata ke Tebing Breksi, Puncak Pinus Becici, dan Pantai Parangtritis. Bus wisata membawa penumpang 45 orang dan 2 awak bus.

2. Setelah wisata di Tebing Breksi, bus wisata melanjutkan perjalanan ke Puncak Pinus Becici lewat wisata Heha Sky View Jalan Dlingo-Patuk Gunung Kidul.

3. Sekitar pukul 14.00 WIB bus wisata melanjutkan perjalanan dari Puncak Pinus Becici ke Pantai Parangtritis yang geometrik jalannya dipenuhi dengan turunan dan tikungan.

4. Pengemudi bus menggunakan gigi 3 pada saat melalui jalan menurun panjang dan melakukan pengereman berulang-ulang dengan service brake setiap memasuki tikungan, agar tidak masuk ke jurang atau membentur tebing.

5. Saat mendekati Bukit Bego, pengemudi merasakan service brake tidak bekerja. Pengemudi mencoba memindahkan gigi transmisi ke gigi rendah, namun kesulitan dan pada akhirnya masuk ke posisi gigi netral.

6. Bus wisata akhirnya menabrak lereng Bukit Bego.

7. Kecelakaan ini mengakibatkan 14 orang meninggal dunia, 4 orang luka berat dan 29 orang luka ringan.



Simak Video "Bus Pariwisata Seharusnya Dilarang Lewat Jalan Ekstrem, Setuju?"
[Gambas:Video 20detik]
(lua/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT