Kuota Solar Harian Dibatasi, Begini Cara Bus-bus AKAP Sumatra Bertahan

ADVERTISEMENT

Kuota Solar Harian Dibatasi, Begini Cara Bus-bus AKAP Sumatra Bertahan

Luthfi Anshori - detikOto
Senin, 26 Sep 2022 19:47 WIB
PO ALS
Begini cara bus-bus Sumatra menyiasati kuota Solar yang diterapkan pemerintah. Foto: Luthfi Anshori/detikOto
Jakarta -

Pemerintah telah menetapkan kuota Solar per hari untuk kendaraan pribadi hingga angkutan umum seperti bus-bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi). Mau tidak mau operator bus AKAP yang memiliki trayek panjang seperti bus-bus asal Sumatra harus bersiasat agar mereka mendapatkan jatah Solar.

Sebagai informasi, pemerintah telah menaikkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) jenis Pertalite, Pertamax, dan Solar pada 3 September 2022 lalu. Tidak hanya mengerek harga BBM, pemerintah juga membatasi kuota pembelian BBM Subsidi jenis Pertalite dan Solar.

Dikutip dari detikFinance, pembelian Solar sejak September harus memakai aplikasi MyPertamina. Dalam aturan, jenis kendaraan pribadi kendaraan roda empat pembelian maksimal Solar yakni 60 liter per hari. Lalu buat angkutan umum orang atau barang dengan kendaraan roda empat, maksimal adalah 80 liter per hari dan untuk angkutan umum orang atau barang dengan kendaraan roda 6 maksimal 200 liter per hari.

Direktur Utama PT SAN Putra Sejahtera (PO SAN), Kurnia Lesani Adnan, mengkritisi kebijakan kuota solar 200 liter per hari untuk bus. Menurut pria yang akrab disapa Sani, kuota itu menyulitkan bus-bus AKAP yang beroperasi dengan rute panjang.

Sani mengatakan, bus-bus PO SAN yang memiliki trayek dari Sumatra ke Jawa dan sebaliknya, sekali jalan bisa menghabiskan 350 liter bahan bakar Solar. Artinya, kuota 200 liter per hari sangat jauh dari kata cukup.

"Kalau PO SAN (total) sekali jalan bisa menghabiskan sekitar 650 liter. Jadi misalnya bus berangkat dari Pekanbaru dia isi 200 liter dia berangkat, sampai Jambi pagi kan, Subuh, dia bisa isi lagi 200 liter. Nah, di Palembang dia harus isi lagi kurang lebih 400 liter lah, tapi itu belum masuk 24 jam. Jadi dengan (aturan Solar 200 liter per hari) itu nggak bisa (mencukupi)," sambung Sani.

"Dengan pertumbuhan infrastruktur ini kan waktu tempuh jadi lebih cepat. Ini yang tidak sesuai antara kebijakan Pertamina sama pertumbuhan daripada infrastruktur," lanjut Sani yang perusahaan busnya bermarkas di Bengkulu.

Lahirnya Oknum-oknum Operator SPBU

Dengan dibatasinya jatah Solar harian, membuat para operator bus di Sumatra harus 'menyogok' oknum operator SPBU agar bisa mendapatkan Solar saat jatah solar harian mereka telah habis, namun bus belum mencapai daerah tujuan.

"Oleh oknum-oknum operator SPBU, ini dijadikan kesempatan. Dijadikan duit (oleh mereka). Misal sekarang kuota 200 liter/hari habis, 'dorong' duit Rp 25 ribu-Rp 50 ribu, entah dia pakai nomor polisi mana, masukkin lagi 200 liter bisa. Dan itu (benar-benar) terjadi," bilang Sani.



Simak Video "Rute Bus AKAP Terjauh di Indonesia, Setara dari Ujung ke Ujung Eropa"
[Gambas:Video 20detik]
(lua/lth)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT