Bensin di Sri Lanka Tersisa untuk Satu Hari, Pembeli Harus Antre 6 Jam

Dina Rayanti - detikOto
Selasa, 17 Mei 2022 13:10 WIB
Sri Lankan auto rickshaw drivers queue up to buy petrol near a fuel station in Colombo, Sri Lanka, Wednesday, April 13, 2022. Sri Lankas prime minister on Wednesday offered to meet with protesters occupying the entrance to the presidents office, saying he would listen to their ideas to resolve the economic, social and political challenges facing the country. (AP Photo/Eranga Jayawardena)
Pengendara harus antre berjam-jam untuk mengisi BBM. (Foto: AP/Eranga Jayawardena)
Jakarta -

Antrean panjang di tempat pengisian bahan bakar di Sri Lanka terlihat mengular sangat panjang. Di Ibu Kota Sri Lanka, Kolombo antrean tersebut tak dapat terhindarkan lagi. Untuk bisa mengisi BBM, pengendara di Sri Lanka harus menunggu lebih dari enam jam.

"Saya sudah menunggu lebih dari enam jam. Kami menghabiskan hampir tujuh jam mengantre hanya untuk mendapatkan BBM," ungkap salah seorang pengendara Mohammad Ali dikutip Reuters, Selasa (17/5/2022).

Ali tak sendirian. Pengendara lain juga mengeluhkan hal serupa. Bahkan sekalipun sudah mengantre berjam-jam, Mohammad Naushad malah kehabisan BBM.

"Kami di sini sejak jam 7-8 pagi dan sampai sekarang belum jelas apakah mereka memiliki stok BBM atau tidak. Tidak ada yang tahu kapan itu datang, kami juga tidak tahu," ungkap Naushad.

Saat ini pengiriman BBM masih dalam perjalanan melalui jalur India dan sudah sampai di Sri Lanka. Namun demikian, BBM belum didistribusikan secara merata. Stok BBM di Sri Lanka pun tidak banyak. Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe mengaku stok BBM itu hanya cukup untuk satu hari.

"Saat ini kami hanya memiliki stok BBM untuk satu hari. Bulan-bulan berikutnya akan menjadi masa yang sulit," ungkap Wickremesinghe.

Melihat hal tersebut, Menteri Energi Kanchana Wijesekera mengatakan agar masyarakat bisa menunggu di rumah hingga akhirnya stok BBM terpenuhi kembali.

"Kami meminta masyarakat untuk tidak mengantre dalam waktu tiga hari ke depan sampai distribusi 1.190 tempat pengisian bahan bakar dipenuhi," ungkap Kanchana.

Untuk diketahui, Sri Lanka saat ini dilanda krisis setelah dihantam pandemi Covid-19 ditambah dengan adanya kenaikan harga BBM dan pemotongan pajak populis dari trah Rajapaksa. Krisis tersebut lebih parah dari tahun 1948. Kekurangan devisa menyebabkan inflasi meningkat, harga bahan pokok dan BBM merangkak hingga stok obat-obatan menipis.



Simak Video "Krisis Ekonomi Sri Lanka, Pria Dibunuh saat Antre BBM-Militer Dikerahkan"
[Gambas:Video 20detik]
(dry/din)