Kebiasaan Sopir Bus/Truk, Niat Menghemat Berujung Tak Selamat

Tim detikcom - detikOto
Senin, 07 Feb 2022 14:39 WIB
Jakarta -

Kecelakaan maut akibat bus dan truk mengalami rem blong terus saja terjadi. Ternyata ada kebiasaan buruk pengemudi bus dan truk yang bisa menyebabkan rem blong.

Menurut praktisi keselamatan berkendara yang juga Founder dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, kebiasaan pengemudi itu adalah salah kaprah dalam menghemat bahan bakar (BBM).

"Sistem gaji ini pengaruh. Misalnya, pokoknya berangkat ke sana (dikasih uang untuk) BBM sekian, kalau si pengemudi bisa menghemat, dia bisa bawa pulang uang lebih (dari kelebihan uang BBM yang dibuat lebih irit)," kata Jusri kepada detikcom, Senin (7/2/2022).

Namun, cara yang dipakai pengemudi dalam menghemat BBM itu salah kaprah. Menurutnya, demi menghemat BBM, sopir bus atau truk sering menetralkan transmisi di jalan turunan. Padahal, hal tersebut bisa berisiko kecelakaan fatal.

"Caranya si sopir antara lain setiap jalan menurun--ini banyak sekali--persneling dinetralin. Alasannya supaya beban kerja mesin jadi lebih ringan sehingga yang terjadi konsumsi bahan bakar lebih irit. Kalau lebih irit berarti ada sisa uang yang dibawa pulang. Itu suatu fenomena yang jadi kebiasaan sopir-sopir di jalan menurun. Nggak pakai persneling, netral semua. Buktinya kalau kencang kayak roket di turunan itu udah netral itu. Tinggal bunyi rem buang angin itu," jelas Jusri.

Jika truk atau bus dinetralkan di jalan menurun, yang terjadi adalah freewheel yaitu kendaraan akan meluncur tanpa engine brake. Jika sudah seperti itu, yang diandalkan sopir hanya service brake atau rem kaki.

"Rem pun tidak mampu. service brake (rem kaki) akan mengalami overheat atau terjadi penyusutan kemampuan remnya," jelasnya.

Hal itu berpotensi membuat rem blong karena sistem rem yang terlalu panas.

(rgr/din)