Kenapa Orang Indonesia Suka Konvoi yang Rugikan Orang Lain: Sunmori sampai Antar Jenazah

Tim detikcom - detikOto
Selasa, 25 Jan 2022 10:03 WIB
Sejumlah pelajar melakukan konvoi dengan mengenakan seragam sekolah yang di cat tanpa menjaga jarak dan tidak menggunakan masker di Bandar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (5/5/2020). Meskipun pengumuman kelulusan dilakukan secara daring dan adanya larangan bagi pelajar merayakan kelulusan, namun masih ada pelajar yang melakukan konvoi di jalan dan tidak menggunakan masker serta tidak menjaga jarak aman saat adanya wabah virus Corona (COVID-19). ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/hp.
Konvoi di jalan raya sering timbulkan masalah. Dari Sunmori sampai iring-iringan pengantar jenazah. Foto: ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra
Jakarta -

Konvoi kendaraan di jalan raya disebut sering menimbulkan masalah. Tak hanya dilakukan komunitas pencinta otomotif, aksi konvoi lain juga kerap mengganggu pengguna jalan lain.

Hal itu dikatakan oleh praktisi keselamatan berkendara yang juga founder dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu. Menurut dia, konvoi kendaraan di jalan raya cenderung merasa eksklusif.

"Pada dasarnya, ketika kita melakukan satu gerakan yang cukup ramai seperti konvoi, konvoi ini sering menjadi masalah. Tidak hanya komunitas tapi juga konvoi-konvoi seperti (iring-iringan pengantar) orang meninggal. Bahkan konvoinya sering arogan dan cenderung kadang-kadang anarkis. Kadang-kadang kaca spion kita patah dipukul sama mereka," kata Jusri kepada detikcom.

"Belum lagi kelompok orang yang selebrasi pertandingan sepakbola, jangan coba-coba mendekat sama mereka. Tidak hanya satu jalur, tapi semua jalur dipakai," sambungnya.

Jusri menambahkan, ada juga konvoi perayaan kelulusan anak-anak sekolah hingga acara Sunday Morning Ride (Sunmori).

"Mereka cenderung menunjukkan eksistensi mereka dengan eksklusifitas yang kadang-kadang terlalu arogan/anarkis," ucap Jusri.

Menurut dia, masalah konvoi kendaraan di jalan raya ini harus disikapi. Jangan sampai konvoi ini mengganggu pengguna jalan lain.

"Kalau itu berupa rombongan, silakan melakukan koordinasi dengan polisi. Karena domain rekayasa lalu lintas yang mengatur rombongan, mengatur orang lain pada saat berada di jalan itu polisi. Polisi memiliki hak hukumnya dan polisi paham dalam melakukan SOP ini," katanya.

"Intinya kalau kita akan melakukan sebuah aktivitas yang bergerak pada waktu yang sama menggunakan ruang publik, apa pun alasannya harus koordinasi dengan polisi. Jangan sampai ada stakeholder (pengguna jalan) yang lain merasa terganggu."

"Kalau terganggu maka polisi akan melakukan pengarahan hingga penindakan. Oleh karena itu kepada semua masyarakat yang punya kepentingan untuk bergerak maka dia harus mematuhi aturan-aturan konvoi itu. Jangan sampai mengganggu masyarakat pengguna jalan lain," lanjutnya.



Simak Video "Bantahan Akbar Rais soal Konvoi Mobil Mewah Berhenti di Tol untuk Foto"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)