Tebu, Singkong dan Jagung pun Bisa Jadi Bahan Bakar Kendaraan

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Kamis, 23 Des 2021 17:45 WIB
Sejumlah pom bensin di Iran lumpuh imbas terdampak serangan siber. Kondisi tersebut membuat antrean panjang terlihat di sejumlah pom bensin.
Ilustrasi isi BBM. Foto: AP Photo
Jakarta -

Dunia otomotif saat ini dihadapi tantangan lingkungan. Pabrikan kendaraan ditantang untuk membuat produk yang lebih ramah lingkungan. Salah satu yang disiapkan adalah teknologi flexy engine yang menggunakan bahan bakar terbarukan.

Untuk bahan bakar terbarukan, di Indonesia saat ini ada biodiesel B30 yang mencampurkan 30% bahan bakar nabati. Program biodiesel 30 ini sudah berlangsung sejak tahun lalu.

"Ini bisa ditingkatkan sampai B40 walaupun perlu waktu pengembangan. Teknologi engine masih sama tapi yang perlu dikembangkan adalah teknologi bahan bakar, bagaiaman spesifikasinya memenuhi engine yang ada. Dan itu mampu menurunkan emisi gas buang," kata Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara dalam diskusi virtual dengan Forum Wartawan Otomotif (Forwot).

Namun, bahan bakar nabati di Indonesia baru tersedia versi diesel. Padahal, 75% kendaraan di Indonesia menggunakan mesin bensin.

"Bensin bisa kita kembangkan atau bisa memanfaatkan sumber nabati, ethanol. Sumbernya banyak. Kita bisa gunakan jagung, kita bisa gunakan singkong, kita bisa gunakan tebu, dan lain sebagainya," jelas Kukuh.

Untuk kendaraan berbahan bakar ethanol, Indonesia sudah mampu memproduksinya. Malah, mobil berbahan bakar ethanol buatan Indonesia sudah diekspor.

"(Mobil ethanol) Sudah diproduksi di Indonesia bahkan sudah diekspor ke Argentina dan Brasil, untuk di sana digunakan dengan E85 (ethanol 85%). Inilah alternatif-alternatif yang ada untuk menuju ke arah green mobility, ke arah dekarbonisasi. Opsi-opsi tadi akan menarik sekali kalau misalnya tebu bisa kita optimalkan bikin gula, tapi sisi lain juga untuk membuat ethanol. Jagung, singkong dan sebagainya," ujar Kukuh.

Menurutnya, menarik jika masing-masing daerah mengembangkan bahan bakar ethanol sendiri. Misalnya, Jawa Timur mengembangkan ethanol menggunakan tebu dan sebagainya.

"Ini akan menjadi sangat menarik, karena ethanol tebu di Jawa Timur (digunakan) di Jawa Timur saja, tidak ada biaya distribusi. Ini akan menarik kalau kemudian dikaji lebih dalam. Dan itu bisa berjalan dari sekarang, berangsur-angsur menuju 2030. Di samping nanti mungkin akan muncul alternatif-alternatif lain apakah hidrogen, apakah itu plug-in hybrid, kita nggak tahu," katanya.

Selain flexy engine yang menggunakan bahan bakar nabati, industri otomotif Indonesia juga tengah menuju era elektrifikasi. Kini, sudah mulai digalakkan teknologi kendaraan hybrid, plug-in hybrid, sampai kendaraan listrik berbasis baterai. "Dan mungkin punya potensi muncul di Indonesia adalah FCEV (mobil hidrogen)," ucap Kukuh.



Simak Video "Pabrik Biodiesel di Spanyol Meledak, Dua Orang Tewas"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/lth)