Kekhawatiran Sopir Ambulans: Was-was RS Penuh hingga Tularkan COVID-19 di Rumah

Tim detikcom - detikOto
Minggu, 18 Jul 2021 14:08 WIB
Sejumlah kendaraan ambulans dan bus sekolah yang membawa pasien COVID-19 antre untuk masuk kawasan Rumah Sakit Darurat  COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Jakarta, Kamis (10/6).
Ilustrasi ambulans saat mengangkut pasien COVID-19 Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Sopir ambulans menjadi profesi yang berjibaku membantu penanganan corona. Di sisi lain, relawan hingga sopir ambulans merupakan manusia biasa, yang juga menyimpan kekhawatiran dalam menjalankan profesinya.

"Saya manusiawi, khawatir itu ada, cuma manusia diberi akal budi kecerdasan. Kita harus bisa memilah-milah mana yang tidak perlu dikhawatirkan, mana yang bisa kita atasi," kata relawan Sopir Ambulans, Herry Febrianto saat berbincang bersama detikcom, Jumat (16/7/2021).

Satu kekhawatiran bagi relawan dari Kagama Intelek ini ialah pasien yang tidak mendapat pelayanan di rumah sakit karena penuh.

Dalam laman LaporCovid19 sedikitnya 265 korban jiwa yang meninggal dunia positif COVID-19 dengan kondisi sedang isolasi mandiri di rumah, saat berupaya mencari fasilitas kesehatan, dan ketika menunggu antrean di IGD Rumah Sakit. Kematian di luar fasilitas kesehatan ini terjadi selama bulan Juni 2021 hingga 2 Juli 2021

Sebagai sopir ambulans, dia dikejar waktu dan terjepit dengan keadaan kesehatan pasien yang berangsur menurun. Herry menggambarkan saking penuhnya, satu demi satu rumah sakit didatangi. Begitu seterusnya. Saat di rumah sakit pun, pasien COVID-19 harus antre hingga 3 sampai 4 jam.

"Kita sedih jemput terburu-buru, ke rumah sakit A ditolak karena memang dia sudah penuh kapasitasnya, ke rumah sakit B juga ditolak. Akhirnya kita ke rumah sakit induk, misalnya yang tidak bisa menolak Sarjito," kata Herry.

"Permasalahannya untuk masuk ke fasilitas kesehatan itu antreannya panjang sekali bisa tiga sampai empat jam."

"Beberapa meninggal itu ketika antre, masih di dalam mobil relawan," sambung Herry.

Apa yang diucapkan Herry tak sendirian. Kejadian serupa juga dialami Hardi, sopir ambulans yang bertugas di Bandung Raya, Jawa Barat, menandakan betapa mengerikannya virus ini yang membuat kapasitas pelayanan tak sesuai dengan lonjakan kenaikan COVID-19.

Tak jarang Hardi harus berkeliling mencari rumah sakit rujukan COVID-19, saat rumah sakit yang didatanginya tak bisa menampung pasien lagi. Da juga kerap mendapatkan permintaan mengantar warga yang mengeluh sakit sesak, tapi belum diketahui hasil swab testnya.

"Mau tidak mau kita harus terus mencari, minimal pasien dapat penanganan pertama dari dokter di rumah sakit, walau seadanya, bila masuk tak memungkinkan dan pasien dapat pertolongan pertama, kita pulang lagi," katanya.

"Makanya untuk persiapan, saya biasanya minta ditunjukkan rujukan sisrutenya bagaimana, atau minimal hasil swab testnya, karena banyak yang merasa sesak, terus minta ke rumah sakit, sekarang kan rumah sakit juga penuh," ucap Hardi melanjutkan.

Khawatir menularkan virus saat pulang ke rumah

Berjibaku dalam membantu pandemi corona ini perlu persiapan bagi Herry. Apalagi sebagai relawan, dia juga punya keluarga yang menanti di rumah.

Herry juga penyintas COVID-19 ini sudah dua kali terinfeksi. Setelah sembuh dia memutuskan untuk bergabung menjadi relawan.

"Saya waktu kena COVID banyak dibantu teman-teman, makanya saya punya janji pada diri saya sendiri, nanti kalau saya sudah sembuh saya bantu orang lain," kata Herry.

Dia yakin seseorang yang pernah terkena COVID-19 dapat melawan ancaman reinfeksi virus Corona. Kendati demikian, selama Herry menjadi relawan juga tetap menggunakan protokol kesehatan yang ketat.

"Saya konsultasi ke kakak kelas saya, Kepala Forensik RS Sardjito, saya pulang langsung lepas baju, saya cuci pakai sabun, saya mandi, keramas, sudah, virus yang di luar sudah selesai," kata Herry.

"Selama bekerja saya selalu prokes pakai masker, sarung tangan, pakai penutup kepala," kata dia.

Keluarganya pun, dikatakan Herry, telah memahami risikonya. Walau begitu, Herry kerap mengganti baju dan mandi sebelum bersentuhan dengan keluarga di rumahnya.

"Bisa jadi saya kuat, tapi pada saat saya pulang, nempel ke anak istri saya kan kasihan," kata Herry.

Senada dengan hal tersebut, Hardi yang juga menjabat sebagai Kabag Hukum DPW Persaudaraan Pengemudi Ambulance Indonesia (PPA) Jawa Barat, profesi yang digelutinya pada masa pandemi ini memberikan tantangan lebih bagi Hardi, ia harus bisa memastikan kondisi tubuhnya tetap prima. Salah satu kiat yang dijalankannya adalah makan teratur, rutin minum air hangat dan vitamin C.

"Kalau untuk perlengkapannya kita sediakan APD, dan disinfektan untuk tubuh kita sendiri dan kendaraan," ujar Hardi.



Simak Video "Kesedihan Sopir Ambulans Tak Bisa Selamatkan Pasien COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/rgr)