Round-Up

Fakta-fakta Mata Elang, Debt Collector yang Bikin Resah Tarik Motor di Jalan

Tim detikcom - detikOto
Jumat, 09 Jul 2021 15:52 WIB
Tawuran di Jakpus (dok. Istimewa)
Mata Elang kerap bikin resah dengan aksinya menarik motor macet kreditnya di jalan (dok. Istimewa)
Jakarta -

Mata elang kini menjadi sorotan usai terlibat bentrok dengan sejumlah driver ojek online (ojol) di Mangga Besar, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Selasa (6/7). Apa itu profesi mata elang dan bagaimana masyarakat menghadapinya?

Polisi mengungkap tawuran itu dipicu kesalahpahaman di antara kedua pihak.

"Jadi dari pihak ojol menganggap bahwa dari pihak mata elang melakukan penarikan, namun ternyata terjadi salah pahamlah intinya seperti itu," ujar Kapolsek Sawah Besar AKP Maulana Mukarom saat dikonfirmasi, Rabu (7/7/2021).

Debt collector biasa juga disebut mata elang, mereka pihak ketiga yang ditunjuk dari perusahaan leasing atas alasan kredit macet.

Mata elang (matel) biasa standby di pinggir-pinggir jalan sembari memegang ponsel atau buku untuk mencatat nopol yang bermasalah terkait lembaga pembiayaan. Banyak yang menganggap sorotan matanya bak elang, tajam melihat pelat nomor debitur yang menunggak kredit kendaraan.

Jika mata elang menjumpai kendaraan yang cicilannya macet -- biasanya ditandai dengan nomor polisi oleh pihak leasing -- maka mereka akan mencatat dan menghampiri si pengendara. Dia akan meminta atau memperingatkan debitur untuk melunasi cicilan. Namun tak jarang juga langsung menarik kendaraan yang cicilannya bermasalah itu.

Mata elang pun tak boleh menarik sembarangan kendaraan yang kredit macet di jalan. Masyarakat juga berhak untuk menanyakan syarat-syarat yang harus dilengkapi mata elang dalam menarik kendaraan.

"Syarat untuk mengeksekusi ini adalah sudah didaftarkan fidusianya, sudah dibayarkan PNPB-nya, kemudian sudah juga keluar sertifikat fidusianya. Jadi selama belum didaftarkan, dan sertifikat fidusianya (tidak ada) maka ia tidak bisa mengeksekusi sendiri, ini juga termasuk hak konsumen kalau tidak ada sertifikat maka tidak bisa dieksekusi," ungkap David kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

"Syarat untuk penarik kendaraan untuk mengeksekusi ini juga harus bersertifikasi sebagai pihak yang berwenang untuk mengeksekusi yang dikeluarkan oleh Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) kalau tidak bersetifikasi ini akan menjadi masalah dan dilaporkan ke APPI dan selanjutnya bisa diproses," jelas David.

Polisi sempat mengimbau bagaimana masyarakat menghadapi mata elang di jalan.

Pertama tanyakan identitas. Masyarakat berhak menanyakan identitas para mata elang, meskipun masyarakat terbukti menunggak pembayaran kredit. Namun perlu dilakukan dengan cara yang baik dan sopan.

Kedua, tanyakan kartu sertifikasi. Setelah mengetahui identitas para debt collector, maka masyarakat bisa menanyakan kartu sertifikasi profesi debt collector. Karena pihak debt collector ini akan mengambil barang atau kendaraan sehingga dibutuhkan sertifikasi dari APPI.

Ketiga, tanyakan surat kuasa. Surat kuasa ini menjadi bukti bahwa barang atau kendaraan yang pembayarannya menunggak bisa diambil. Namun surat kuasa ini harus berasal dari perusahaan pembiayaan. Sehingga para debt collector tidak bisa seenaknya langsung menyita atau sebagai sebagainya.

Keempat, harus ada sertifikat jaminan fidusia. Langkah terakhir yang bisa dilakukan masyarakat dalam menghadapi para debt collector adalah menanyakan sertifikat jaminan fidusia. Sertifikat jaminan ini bisa berupa yang asli atau salinan. Jika tidak ada, maka masyarakat berhak menolak penarikan atau penyitaan barang yang akan dilakukan.

Polri pun meminta kepada seluruh masyarakat agar tidak segan meminta bantuan aparat penegak hukum jika keempat poin tersebut tidak bisa dipenuhi oleh para debt collector.

Tapi jika debiturnya nakal maka debt collector atau mata elang bisa mengajak polisi dan perwakilan perusahaan pembiayaan.

"Kalau debitur agresif saya mengajarkan ke kolektor kita balik kanan ikutin aja kendaraannya diparkir di mana. Tungguin lalu hubungi perusahaan pembiayaan, ajak petugas polisi datang ke rumahnya. Kalau petugas polisi datang kan nanti yang bersikeras tahu yaudah mobilnya dibawa dulu ke kantor polisi jadi barang bukti, nanti dibuktikan mana yang benar," terang Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno.