Kecelakaan Truk Masih Sering Terjadi, Ini Langkah Pemerintah

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Rabu, 31 Mar 2021 08:58 WIB
Ilustrasi kecelakaan truk
Kecelakaan truk. Foto: Ilustrasi oleh Fuad Hasim
Jakarta -

Kecelakaan truk masih sering terjadi. Bahkan, kecelakaan yang melibatkan truk kerap merenggut korban jiwa. Untuk itu, pemerintah memiliki PR besar demi membenahi kasus kecelakaan yang melibatkan kendaraan besar ini.

Kepala Sub Direktorat Angkutan Barang Direktorat Angkutan Jalan Kementerian Perhubungan, Alexander Hilmi Perdana, mengatakan banyaknya kecelakaan truk ditimbulkan karena ada truk over dimensi dan over load (ODOL).

"Sejalan dengan itu, pemerintah akan terus giat menerapkan implementasi zero ODOL pada 2023. Saat ini kami dari angkutan barang terus mendorong para perusahaan, baik itu perusahaan yang bergerak di bidang angkutan barang umum atau angkutan barang khusus, untuk terus memastikan bahwa kendaraan yang digunakan tidak over dimensi dan over loading," kata Alexander dalam webinar bersama PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), distributor resmi Mitsubishi Fuso Truck and Bus Corporation (MFTBC) , kemarin.

Kata dia, truk ODOL menyebabkan dampak yang cukup besar. Misalnya ada kerusakan jalan bahkan sampai jembatan yang runtuh. "karena memang tidak sanggup lagi untuk menanggulangi kearena dimensi yang sangat berat dan sangat panjang dari sisi angkutan," ujarnya.

Dia melanjutkan, truk ODOL menyebabkan penurunan kecepatan sampai kemacetan. Selain itu, akibat truk ODOL biaya operasional lebih tinggi dan umur jalan menjadi cepat rusak.

"Yang kami lakukan adalah dengan menertibkan ODOL ini akan mempertahankan umur jalan, akan menghindari kerusakan dini jalan. Kemudian penurunan angka kecelakaan yang melibatkan angkutan barang. Yang pasti akan menurunkan biaya operasional yang lebih rendah," katanya.

Tak cuma itu, sering juga terjadi kecelakaan yang melibatkan truk pada malam hari. Untuk itu, Alexander mengatakan pihaknya mewajibkan angkutan barang dipasangi alat pemantul cahaya di sisi belakang, kanan dan kiri.

"Alat berupa stiker yang dapat memantulkan cahaya atau bersifat retroreflective yang dipasang di bagian tertentu pada kendaraan. Dipasang di mobil barang dan mobil bus, kereta gandengan dan kereta tempelan. Merah dan di samping kuning atau putih," katanya.

Selanjutnya, Kemenhub juga akan menerapkan pengaturan electronic manifest. Dengan electronic manifest, Kemenhub bisa mengetahui pergerakan angkutan barang berbasis aplikasi yang bersifat real time.

Kemenhub juga menyiapkan e-Logbook untuk pengawasan. Dengan adanya e-Logbook, bisa diketahui berbagai informasi seperti waktu kerja pengemudi.

"Perilaku pengemudi, waktu kerja, waktu istirahat dan penggantian pengemudi dapat kita monitor melalui satu aplikasi. E-Logbook juga bersifat single identity bagi pengemudi dan tentunya juga akan menurunkan kecelakaan karena kita memaksimalkan waktu kerja dan waktu istirahat dari pengemudi itu sendiri," sebutnya.



Simak Video "Rem Blong, Truk Pembawa Beras Oleng dan Timpa Rumah Warga!"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)