Mengenal Stall, Kondisi Gawat yang Bikin Pesawat Kehilangan Daya Angkat

Tim detikcom - detikOto
Senin, 11 Jan 2021 15:23 WIB
Pesawat Sriwijaya Air PK-CLC yang hilang kontak di Kepulauan Seribu (dok jetphotos.com via flightradar24))
Foto: Pesawat Sriwijaya Air PK-CLC yang hilang kontak di Kepulauan Seribu (dok jetphotos.com via flightradar24))
Jakarta -

Stall merupakan masalah serius yang bisa terjadi pada pesawat terbang ketika melayang di udara. Stall bisa membuat pesawat kehilangan daya angkat dan mengakibatkan pesawat jatuh dari ketinggian layaknya sebuah batu.

Pilot sekaligus Youtuber, Captain Vincent Raditya, pernah menjelaskan mengenai istilah pesawat stall dalam dunia aviasi. Konten mengenai stall tersebut diunggah di akun Youtube pribadinya, pada 8 Januari 2021.

Menurut Vincent, stall terbagi dalam beberapa kategori, yakni stall biasa, full stall, hingga stall yang bisa membuat pesawat mengalami spin alias berputar-putar.

"Stall bisa terjadi di level manapun. Bisa terjadi di ketinggian yang sangat tinggi, namun juga bisa terjadi di ketinggian yang rendah misal ketika take off atau ketika landing. Dan ketika stall di ketinggian rendah ini sangat mengkhawatirkan, karena ruang untuk recovery sangat kecil sekali," kata Vincent.

[Gambas:Youtube]


Lanjut Vincent menjelaskan, terjadinya efek stall pada pesawat terbang sangat berkaitan dengan faktor altitude (ketinggian) dan speed (kecepatan).

"Jadi selama kita terbang, kita harus bertukar antara speed dengan altitude. Kalau kita mau climb, ya seperti kayak kalau kita mau naik tanjakan ke puncak atau ke gunung pake mobil, itu gas misalnya dengan rpm di 5.000 kita mendapatkan speed 60 km/jam, tapi ketika lurus kita dapat speed 80 km/jam, lalu ketika ketika turun speed-nya 100-120 km/jam. So, ini mirip seperti di pesawat," jelasnya.

Menurut Vincent, ketika stall terjadi pada pesawat terbang biasanya speed-nya akan turun sangat rendah. Semakin kecil, maka airflow juga akan semakin kecil. Dan untuk mempertahankan altitude supaya tetap sama, otomatis pesawat harus menahan pitch (perputaran pesawat terhadap sumbu melintang) lebih tinggi. "Dan semakin tinggi pitch itu ditarik, maka yang terjadi adalah critical angle of attack dan umumnya terjadi stall di low speed," ujarnya.

[Gambas:Youtube]


Mengenai Pesawat Sriwijaya Air yang Diduga Jatuh karena Mengalami Stall

Pesawat Boeing 737-500 milik maskapai Sriwijaya Air jatuh di perairan Kepulauan Seribu tak lama setelah lepas landas dari Soekarno-Hatta. Peristiwa nahas itu terjadi pada Sabtu (9/1/2021).

Melalui pembacaan dan analisa data di situs flightradar24, pesawat Sriwijaya Air tujuan Pontianak itu diduga mengalami stall. "Kalau kita lihat berdasarkan ground speed 115 knots ini. Ini indikasi keras, kuat sekali, kita bisa lihat bahwa pesawat ini terkena full stall. Dan akan sulit sekali di-recover dengan ketinggian segini (5.400 ft)," ujar Vincent, dalam video 'ANALISA DATA SRIWIJAYA AIR SJ-182 FLIGHT RADAR 24', yang diunggah di kanal Youtube pribadinya.

"Dan di jam 07.39, hanya dalam satu menit pesawat itu jatuh dari ketinggian 11.000 ft, dia jatuhnya ke kanan (di ketinggian 250 ft) dengan kecepatan sangat ekstrem, 350 knots adalah kurang lebih 663 km/jam," lanjutnya.

Namun Vincent mewanti-wanti jika data yang tersaji di situs flightradar24 tidak 100 persen benar. "Ini belum tentu benar. Ketepatannya bisa dikatakan 30% bahkan 20% saja. Saya membacakan ini hanya untuk memberikan gambaran bagi orang-orang yang penasaran," tukasnya.



Simak Video "Tipe Pesawat Bukan Penyebab Utama Pesawat Jatuh"
[Gambas:Video 20detik]
(lua/din)