Komunitas Sepeda: Pemerintah Terlalu Car Centric, Pesepeda Terpinggirkan

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Selasa, 17 Nov 2020 14:42 WIB
Bersepeda menjadi gaya hidup baru, bagi warga Kota Bandung, Jawa Barat. Jalanan yang ada di pusat Kota Bandung, menjadi trek favorit bagi para pesepeda.
Foto: Wisma Putra
Jakarta -

Sepeda saat ini makin digandrungi masyarakat. Pemerintah pusat maupun daerah pun memberikan dukungan kepada pengguna sepeda dengan menyediakan infrastruktur.

Namun, sepeda saat ini masih dipandang sebelah mata di Indonesia. Ketua Bike2Work Indonesia Poetoet Soedarjanto mengatakan, Indonesia masih mengedepankan kendaraan bermotor dalam hal pengembangan infrastruktur.

Dalam sebuah kultwit, Bike2Work Indonesia sempat memberikan sindiran melalui Twitter. Mereka menulis bahwa pandangan bersepeda yang menjadi tindakan berbahaya di jalan raya adalah persepsi keliru yang bercokol di hampir semua orang.

"Ini bentuk sindiran kami, kritikan kami. Bahwa penggunaan sepeda sebagai alat lalu lintas quote unquote 'belum diakui' di negara ini. Karena sering kali kami terpinggirkan, tersisihkan dan lain sebagainya," kata Poetoet dalam webinar 'Keselamatan Pesepeda di Jalan', Selasa (17/11/2020).

"Karena sadar atau tidak, negara ini telah dibangun dari sisi jalan raya, adalah yang kami sebut car centric," sambungnya.

Kenapa disebut car centric? Poetoet menjelaskan, pembangunan infrastruktur di Indonesia cenderung memprioritaskan kendaraan bermotor. Contohnya, kata Poetoet, ketika terjadi kemacetan di jalan, maka yang terpikirkan oleh kita semua adalah, lebarkan jalan, panjangkan jalan, dan bangun jalan baru.

Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya mengingatkan pesepeda untuk berkendara di jalurnya. Apabila keluar dari jalurnya bisa dikenai denda tilang Rp 100 ribu.Jalur sepeda yang disalahgunakan oleh pengguna kendaraan bermotor. Foto: Rifkianto Nugroho

"Betul itu adalah sebuah solusi, tetapi solusi jangka pendek saya kira. Karena ketika kita bangun jalan baru tanpa diimbangi dengan kebijakan mengatur volume kendaraan, maka kemacetan akan terus, terus, dan terus. Polusi udara juga tidak bisa kita hentikan dan ujungnya juga kecelakaan lalu lintas yang tidak bisa kita kurangi," sebutnya.

Kultwit Bike2Work IndonesiaKultwit Bike2Work Indonesia Foto: Bike2Work Indonesia

"Dalam kenyataannya, kota dengan jumlah pesepeda terbesar, justru memiliki jalan yang aman, bukan saja aman bagi pejalan kaki melainkan juga untuk pengguna kendaraan bermotor."

Menurutnya, di banyak negara dengan pesepeda dan pejalan kaki yang begitu banyak, dapat dibuktikan bahwa angka kecelakaan turun, polusi udara relatif lebih baik. Itu bertentangan dengan negara-negara yang mengedepankan kendaraan bermotor. "Seperti negara kita ini," kata Poetoet.

"Sebuah kota yang baik adalah kota yang manusiawi, yaitu mengedepankan penggunaan angkutan umum, pejalan kaki dan pesepeda," sambungnya.



Simak Video "Gowes Marak Saat Pandemi, Buku Panduan Bersepeda Diluncurkan"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)